Hit counter
Ketika persahabatan tinggallah kata
4
Keheningan dan
ketenangan di sekitarnya selalu menarik perhatianku, wajahnya yang lembut
selalu ku lihat dari balik jendela kaca di perpustakaan ini. Dia sedang sendiri
lagi di sana, duduk di bangku yang berada di bawah naungan rimbunnya daun pohon
tanaman penghias sekolah, tempat yang sepi dan nyaman untuk menyendiri. Aku
hanya mengetahui nama dan kelasnya, sedangkan dia tak mengetahui apapun tentang
diriku. sejak pertama kali aku masuk ke sekolah ini 4 bulan yang lalu dan
melihatnya, dia telah merebut hatiku.
“ baca buku lagi
ya Ri?” sapaan yang tiba-tiba itu mengagetkanku.
“hah?em..iya nih
Nul, seperti biasa..” kataku dengan sedikit gelagapan menjawab pertanyaan Husnul. Buku yang sedang
ku pegang hampir terlepas dari genggaman.
“yah,seperti
biasa. Membaca di samping jendela di pojok perpustakaan. Aku penasaran, kenapa
kau selalu memilih tempat ini sih?apa ada alasan khusus?” Husnul melihatku dengan
tatapan menyelidik.
“hm..aku memilih
tempat ini karena di sini lebih ‘srek’ aja buat membaca Nul..” Cuma itu alasan
yang masuk akal muncul di otakku.
“o
ya?!baiklah..betul juga sih, di sini memang lebih tenang. Bisa lebih konsentrasi
. ya udah yuk ke kantin. paduan suara nih perutku.” Husnul menepuk-nepuk
perutnya tak perduli murid-murid lain yang berada di sini menatapnya heran.
“baiklah..tunggu
sebentar, aku mau meminjam buku ini dulu.” Aku tersenyum melihat tingkah Husnul, dia tak berubah
sejak aku mengenalnya 3 tahun lalu di SMP, hingga sekarang kita sama-sama duduk
di kelas 1 SMA. Aku sangat menyayanginya, dia sahabat baikku.
“baiklah,ayo
cepetan” Husnul
dan aku berdiri, dia sekarang sudah berjalan menjauh di depanku, sebelum
benar-benar pergi, aku sempatkan untuk melihat keluar jendela lagi.
“kapan aku bisa
berbicara denganmu Cody?” bisik ku, yang kemudian hilang ditelan keheningan
perpustakaan.
⃰ ⃰ ⃰
Aku terpojok, tanganku
mendadak menjadi dingin, ternyata seperti ini perasaan orang yang menjadi
tertuduh dalam suatu kasus.
“kau menguntitku
yah?!” Cody bertanya dengan sedikit berteriak di depan wajahku. Darah menetes
dari pergelangan tangannya.
“aku tidak
seburuk itu! Aku hanya ingin menolongmu” aku hampir menangis sekarang, selain
karena takut melihat dia marah aku juga keberatan di anggap sebagai penguntit. Wajahnya sekarang benar-benar berbeda, tak ada
kelembutan yang selalu memikatku disana.
“ok, kau bilang
ingin menolongku bukan? tapi, mengapa kau bisa tiba-tiba muncul seperti ini?”
Cody menatapku tajam. Kata-katanya memang beralasan, karena di sekolah saat ini
hanya tinggal kami berdua saja.
“aku..aku..” oh tuhan, kenapa suaraku tak bisa keluar
sekarang, di saat seperti ini.
“hei! Kau tak
bisa menjawab kan. Ku ingatkan kau, jangan jadi cewe pengganggu, jangan
menguntitku! Ingat itu!” Setelah memaki ku,Cody berlalu pergi. Kini tinggalah
aku sendiri menanggis dan menyesal, yah…aku sangat menyesal karena tak bisa
menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada Cody. Padahal ini pertama kalinya aku
berbicara dengannya.
⃰ ⃰ ⃰
“sekarang aku
harus bagaimana Nul?” aku menelungkupkan wajahku ke meja kantin, siang ini aku telah
menceritakan semuanya kepada Husnul,
tentang kejadian kemarin, tentang perpustakaan dan tentu saja tentang
perasaanku pada Cody.
“jadi dia memaki
kamu Ri?! Astaga, ga tau diri banget dia! Sebelum tau kejadian yang sebenarnya
dia langsung ambil kesimpulan jelek kaya gitu.” Husnul berkata dengan berapi-api.
“yah, salah ku
juga sih Nul, aku gugup banget waktu mau jawab pertanyaan dia” Aku menatap Husnul dan tersenyum
hambar.
“ga bisa dong
Ri, sekarang juga ayo ikut aku nemuin Cody, kita jelasin yang sebenarnya ke
dia.” Husnul menggandeng
tanganku, Aku terdiam, karena terlalu kaget dan bingung dengan apa yang terjadi.
Aku hanya mengikuti kemana langkah Husnul
membawaku pergi.
⃰ ⃰ ⃰
Cody masih
menatap aku dan Husnul,
mungkin dia masih kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Yah..bagaimana dia
ga kaget, tiba-tiba dia didatangi oleh dua orang cewe di tempat favoritnya ini,
dan yang parahnya, sesampainya kami di sini, Husnul langsung ngejelasin kejadian yang
sebenarnya kemarin dengan sedikit ngebentak dan ga ngebiarin Cody menyela
sekali pun.
“jadi…kemarin
itu kamu benar-benar ga nguntit aku?” akhirnya Cody bicara juga setelah terdiam
cukup lama. Aku mengiyakan dengan mengangguk.
“kenapa kamu ga
bilang kalau kemarin itu kamu ga sengaja ngeliat aku jatuh dari tangga? Kamu
juga kenapa ga bilang kalau kamu sengaja balik ke sekolah dan berada di sana
karena buku kamu ketinggalan di kelas, bukan karena sengaja nguntit aku?” Cody menatap ku,
matanya seperti mengatakan bahwa dia menyesal.
“bagaimana dia
mau ngejawab Dy?! Kamu langsung marah dan maki-maki dia, ya dia ketakutanlah.” Husnul berkata dengan
sinis.
“ok, ok, aku
salah…aku minta maaf yah…” Cody mengulurkan tangannya, tangan yang kemarin mengeluarkan darah segar itu sudah
terbebat perban dengan rapi. aku dengan senang hati
menyambut uluran tangan itu. Aku bahagia, akhirnya aku bisa selangkah lebih
dekat dengan Cody walaupun dari
permulaan yang salah. Ternyata gosip yang aku dengar tentang Cody bukanlah isapan
jempol belaka, Cody memang orang yang ramah dan supel.
“oya..siapa
namamu?dan kelas berapa?” tanyanya padaku
yang membuat aku jadi malu.
“aku Riri, kelas
1-A”
“hm…ok, aku Cody
dari kelas 1-E, dan Nul, maaf yah dah buat temanmu takut dan sedih karena aku.”
Apa?! jadi, Cody dan Husnul saling kenal?kok
aku ga tau?benar-benar mengejutkanku.
“yah, ga papa,
permintaan maafmu ku terima, tapi lain kali jangan berburuk sangka seperti itu
lagi sama orang. Aku tahu apa yang kamu pikirkan waktu itu, tapi dia bukan
seperti para penggemarmu di SMP yang sampai stalkerin kamu”
“em…maaf, kalian
saling kenal? Sejak kapan?” aku ga bisa diam saja, ada yang harus ku ketahui. Cara mereka berbicara, dan Husnul yang menyebut ‘para
penggemarmu di SMP’ itu menandakan mereka pasti saling kenal.
“sejak SMP kelas 3 Ri, aku sudah kenal sama Cody walau kami tidak dekat, dia kan murid pindahan di sekolahku dulu.
lagi pula kelas kami kan dekatan, aku kan kelas 1-D” Husnul menjawab
pertanyaanku, dan di iyakan dengan anggukan Cody. Astaga, jadi selama ini Husnul
mengenal Cody, sayang banget aku ga cerita tentang perasaanku lebih cepat
padanya. Khusnul kan bisa menjadi mak comblang buat aku dan Cody. Gumamku
dalam hati.
“Ri, kamu kok
senyum-senyum sendiri?” Cody menatap ku heran.
“a?..ga papa
kok..hehehe..” dengan tertawa tidak jelas aku
mencari-cari sesuatu di angkasa untuk mengalihkan perhatian. Salah tingkah itu
nama kunonya.
“ye…dia malah
ketawa, kamu lucu juga yah..” Cody tersenyum dan geleng-geleng kepala, senyuman
itu adalah senyum termanis yang pernah ku lihat di hidupku.
⃰ ⃰ ⃰
Tak terasa 3
bulan telah berlalu, dan kami bertiga pun menjadi akrab, aku bersyukur waktu
itu aku dimarahi Cody, malah yang lebih gila, aku bersyukur Cody jatuh dari
tangga waktu itu..astaga, benar-benar gila bukan. Kami sering jalan bareng, ke
perpustakaan, ke kantin dan ngobrol serba bareng. Sekarang aku benar-benar
bahagia, keinginanku buat bisa ngobrol bareng Cody bisa terjadi, bahkan lebih
dari itu..Tuhan…thanks banget yah.
“udah Ri, dari 3
bulan yang lalu aku kan sudah bilang, kamu tembak aja Cody…dia juga sepertinya
suka ma kamu kok”
“yang benar
Nul?, tapi aku malu Nul, masa cewe ngomong suka ke cowo? Kan tengsin abis..”
sore ini aku dan Husnul
sedang duduk di tangga sekolah dan saat ini pun aku mendiskusikan tentang
perasaanku ke Cody pada Husnul.
Hal ini mulai jadi kebiasaan kami sejak 3 bulan yang lalu. Sejak Husnul mengetahui perasaanku pada Cody.
“Riri, Riri..ini
kan dah jaman modern, saatnya emansipasi wanita, lagi pula siapa saja berhak
jatuh cinta”
“emansipasi
wanita? Hahahaha…, apa hubungannya Nul? Kamu ada-ada aja deh.” Aku tertawa
kecil mendengar Husnul
membawa-bawa emansipasi wanita dalam diskusi tentang perasaanku.
“ye..kamu, malah
ngetawain lagi..” Husnul
memanyun kan bibirnya.
“iya sorry,
abisnya kamu lucu sih..”
“tenang saja Ri,
aku selalu dukung kamu kok.” Husnul
meremas tanganku, aku
seperti mendapat keberanian setiap dia melakukan itu, ku suka saat dia
mendukungku, itu membuatku kuat dan berani.
⃰ ⃰ ⃰
“Dy, sebenarnya
maksud kedatangan aku ke sini sendirian aku mau ngomong penting sama kamu.” Aku membuka
pembicaraan, di tempat inilah aku akan mengakui perasaanku padanya, di tempat
dia sering aku perhatikan dari jauh. Husnullah
yang telah membuat aku yakin untuk mengakuinya sekarang, dia benar-benar
mendukungku tadi pagi. Dan sekarang aku tak akan mengecewakan dia lagi dengan
ketidak beranianku.
“oya? Ngomong
aja Ri..tapi..sebelum itu aku boleh ngomong sesuatu ga Ri?” aku berpikir
sebentar, ku kira tak masalah dia memulai pembicaraannya lebih dulu, karena aku
masih memerlukan sedikit waktu untuk mengumpulkan keberanian. Aku tentu tak mau terbata-bata saat mengungkapkan
perasaanku apalagi sampai pingsan.
“ok..ga papa kok
Dy, memangnya kamu mau ngomong apa?” aku duduk tepat di sampingnya, menunggu
kata-kata keluar dari mulut manisnya
yang berwarna merah muda.
“boleh ga aku
titip salam buat Husnul?”
bagai di sambar petir di siang bolong aku tak percaya dengan hal yang baru saja
ku dengar. Aku kaget bukan kepalang, badan ku terasa dingin, kaku. Hatiku
seperti di belenggu kawat berduri. ‘jangan..,jangan
berprasangka buruk Ri, jangan langsung ambil kesimpulan tentang sahabat baikmu’
“Husnul, Dy?” suara ku,
ku buat senormal mungkin, walau air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Ku
palingkan wajahku darinya.
“iya Ri,
salamkan padanya…bilang salam sayang dari ku, aku sayang banget sama dia Ri” ya tuhan..haruskah aku menerima ini sebagai
kenyataan?.Cody mencintai Husnul? Apa yang harus aku
lakukan?menganggap Husnul pengkhianat?tapi disini posisi Husnul tidak
salah...Cody yang mencintainya bukan?
“kamu suka sama
dia sejak kapan Dy?” apa Cuma perasaanku?atau
memang dunia ini tiba-tiba menjadi kecil dan sempit sehingga aku sulit bernapas disetiap
perkataan yang keluar dari mulutku.
“sejak dua
minggu setelah kita diterima di sekolah ini, dan masa kamu ga tau Ri?”
pertanyaan Cody ini membuatku bingung. Apa
lagi yang harus aku ketahui Tuhan? Bukankah cukup aku tahu kalau cintaku yang
selama ini ku pendam berakhir bertepuk sebelah tangan?
“tau? Tau apa
Dy?” aku tidak mengerti maksud pertanyaan Cody.
“aku sama dia
kan pacaran dari satu minggu yang lalu Ri.” Setelah Cody berkata seperti itu
aku berlari meninggalkannya, tak ku perdulikan panggilan darinya. Tangis ku
pecah, aku menangis sepuasnya di UKS setelah aku berpura-pura sakit. Aku
kecewa, aku ga pernah menyangka sahabatku sendiri tega menyusuk aku dari
belakang, aku lebih baik di tampar sama dia dari depan dari pada seperti ini. Husnul…teganya kau?...
Air mata ku,
mengalir semakin deras saat ku mengingat kejadian siang tadi, Cody tak
mengetahui alasan yang sebenarnya mengapa aku berada di UKS, aku mendengar dia masuk kesini beberapa menit yang lalu
dan menanyakan tentang aku ke murid yang bertugas menjaga UKS, dan
Husnul…dia tak ku temui
lagi selain tadi pagi, entah dimana dia sekarang.
Kini tinggal aku
sendiri, semua murid-murid yang lain sudah pulang dari 15 menit yang lalu. Aku sengaja meminta guru kesehatan untuk membiarkan aku
di UKS sampai aku merasa lebih baik. Lorong sekolah
ini menjadi sangat panjang untuk ku jalani.
“Ri!” suara
panggilan yang keluar dari mulut seseorang yang sangat ku kenal. Tak kusangka
ternyata dia masih berada di sekolah. Ku hapus air mataku.
“ya Nul, kok
belum pulang?” aku berusaha tersenyum.
“tadi ada
kegiatan, loh? Kamu habis nangis Ri? Kenapa?” wajahnya terlihat bingung, ‘kenapa?ini
karena kamu sahabatku sayang’
“Nul, aku mau
Tanya, dan ku ingin kamu jawab dengan jujur”
susah payah aku menahan gejolak yang ada di dadaku yang menginginkan untuk
menamparnya sekarang.
“ok, tanya aja
Ri..apa sih yang ga buat sahabat ku” sahabat?
Masih kau pandang sajakah aku sebagai sahabatmu setelah kau khianati aku?
“apa benar kamu
pacaran sama Cody?” ku lihat kekagetan di wajahnya. Tapi tak butuh 3 detik wajah yang menampilkan ekspresi
itu berubah kembali menjadi semula.
“nggak Ri, siapa
yang bilang?” ucapnya disertai senyuman
manis.
“Husnul!! Jujurlah!..ku mohon..aku butuh kejujuranmu sekarang, aku sakit memikirkan
alasan dan mimik wajah apa yang harus aku perlihatkan saat melihatmu, aku
sakit..didada ini perih..seperti ada yang hilang..”
aku menangis tersedu, ku tatap dia dengan mata yang berair.
“Ri…maafin aku
Ri..aku ga bermaksud Ri..aku...memang pacaran sama Cody..aku memang mencintai
Cody...aku mencintai dia sejak kita bertiga menjadi dekat 3 bulan
lalu..Ri..aku..”
“cukup! Aku
bilang cukup Nul..aku ga pernah nyangka kamu bisa setega ini sama aku. Buat apa
selama ini kamu mendukung aku dengan kata-kata manismu? Hah?! Buat apa kamu
kasih harapan ke aku?! Rasa dikhianati
olehmu lebih sakit daripada saat aku tahu kalau Cody dan kamu Pacaran!Mulai
sekarang kita tak lagi menjadi sahabat!!!” aku sudah tak tahan lagi
berlama-lama di sini, aku berlari pergi meninggalkan Husnul. Sakit hatiku
begitu dalam padanya, dia benar-benar keterlaluan. Hatiku hancur, lebih hancur dari gelas yang jatuh dari
lantai 100 sekalipun.
⃰ ⃰ ⃰
Aku baru saja selesai
membaca buku yang ada di depanku, yah seperti yang biasa aku lakukan di
perpustakaan ini. sejak setahun yang lalu, aku sudah tak bersama-sama Cody dan Husnul lagi. Aku sudah
mengakhiri semuanya, walau dulu Cody
terus mendatangiku dan bertanya mengapa sikapku berubah, dan Husnul yang selalu
meminta maaf padaku, tak pernah sekalipun aku hiraukan. Dalam hati aku sudah
memaafkan Husnul memang, bahkan sejak dulu, tapi memaafkan bukan berarti
melupakan. Ku melihat keluar jendela, ku dapati di
sana Cody sedang duduk di bangku itu lagi, tapi sejak setahun yang lalu jugalah
semua berbeda, karena sekarang dia tak sendirian, ada Husnul yang selalu
menemaninya di sana.
⃰ ⃰ ⃰
Kini
persahabatan kita tinggalah kata
Semuanya
hancur berkeping-keping…
Karena
kau menikamku dari belakang dengan menghela dia dalam dekapanmu…
***
BY : MENTARI ARDINI
By : Rie Chan
Biarkan aku pergi
2
Matahari bersinar cerah memberikan kehangatan kepada
seluruh makhluk hidup agar bersemangat memulai harinya. Tapi tidak dengan Rita, cuaca cerah, kehangatan atau apapun tak dirasakannya pagi
ini, semua indra perasa miliknya seperti kehilangan kemampuannya, yang dia tahu
pagi ini adalah pagi dimana puncak badai kehidupan memporak-porandakan
pertahanan diri juga harapan hidup yang berusaha dia yakini. Dia disana, tepat
di samping gundukan tanah baru yang masih berwarna
merah itu, Rita menangis sambil berteriak-teriak
memanggil nama seseorang
sedangkan dua orang manusia yang berstatus sebagai orang
tua dari nama yang diteriakan dirinya berusaha sekuat
tenaga untuk membawa dia pergi dari pemakaman itu.
“Randa!! Jangan tinggalkan aku! Kamu bilang,
kamu cinta sama aku! Aku gak
butuh cincin ini!, gak ada gunanya
cincin ini kalau kamu gak ada..mana ada orang yang memakai cincin tunangan hanya
sendirian!” histerisnya lagi sambil
menggenggam kotak cincin berwarna hitam.
Teriakan
Rita menggema di setiap sudut pemakaman yang sunyi. Membentur dinding-dinding beton yang memagari
area pemakaman.
“Sudah
Ri, kamu mesti mengikhlaskan kepergian
Randa, Randa sudah meninggal, kamu mau panggil dia seribu kali pun dia
enggak akan bangun lagi Ri…” mama Randa
memeluk Rita sambil berusaha mengangkat tubuh gadis cantik yang sedang menangis
itu, dia sudah mengikhlaskan
kepergian anaknya walaupun masih belum sempurna.
Tapi, Rita tetap tak bergeming, ia masih tak dapat percaya pada kenyataan
yang begitu menyakitkan, yang membuat
hatinya hancur. Aku yang berdiri tak
jauh dari situ, hanya bisa terdiam, membatu,
melihat pemandangan itu membuat hatiku miris. Ingin rasanya aku mendekat, memeluk Rita dengan segenap perasaanku dan
berkata padanya
‘Hai
bodoh, dia begitu menyanyangimu, apa dengan menangis dan tak mengikhlaskan
kepergiannya seperti ini, caramu
membalas kasih sayangnya?? Kecelakaan itu
sudah takdir hidupnya Rita.’
Yah..seandainya
kecelakaan itu tidak terjadi. Pasti hari
ini Randa bukannya berakhir di
dalam tanah, tapi merayakan ulang tahun
Rita di panti asuhan tempat tinggal Rita selama ini. Bersuka ria bersama anak-anak panti, lalu di depan semua penghuni panti dan orang
tuanya dia akan melamar Rita. Yah
seandainya kecelakaan itu tak terjadi…
⃰ ⃰ ⃰
Senin,
31 Agustus 2009 08:00 malam
“Enggak
! enggak
mungkin tante!! Randa enggak mungkin
meninggal!! aku gak percaya tante!!” Rita jatuh terduduk, dengan HP masih menempel di telinganya. Tangisnya pecah, air matanya mengalir membasahi pipinya, ia terisak di kamarnya.
“Ini
benar Rita..tante gak bohong. Jenazah
Randa baru saja dibawa ke kamar mayat,
Randa kecelakaan Rita…dia ditabrak lari oleh mobil. Datanglah kemari, ada barang titipan Randa buat kamu…kami akan
memakamkan Randa setelah kamu ada disini” suara mama Randa terdengar serak dan
terputus-putus, karena dia sedang menangis.
“aku..aku..gak
ngerti tante!..aku bahkan gak mau mengerti!!aku……”
‘Bruukk…’
‘tit, tit,
tit…’
“halo, halo,
Rita? Kamu dengar? Halo?”
Dunia
tiba-tiba gelap bagi Rita. yah, dia tak
sadarkan diri.
⃰ ⃰ ⃰
Senin,
31 Agustus 2009 07:45 malam
Suara
alat pendektesi detak jantung terdengar sangat mengerikan di ruangan ICU itu, tubuh Randa terbaring lemah tak berdaya di
atas ranjang pasien, ia koma. Mama dan papanya yang berada di luar ruangan
berharap-harap cemas, menangis dan
berdoa agar Randa dapat terselamatkan dari maut.
“Ma, bagaimana ini bisa terjadi?” papa Randa bertanya pada istrinya, dia memang berada di luar kota saat mendapat
kabar buruk itu.
“Mama
juga gak tahu pa..mama cuma dapat telepon dari kepolisian kalau anak kita
kecelakaan, kalau dia ditabrak lari sama
mobil, kalau keadaannya parah
pa!..” mama Randa berteriak histeris.
“Ssst..sudah
ma, ini di rumah sakit…maafin papa” dia memeluk istrinya yang sudah down .
“Mama
shock pa, kepolisian bilang mereka sudah
berhasil menangkap pelakunya, dan tadi
salah satu polisi memberikan bungkusan kecil ke mama, katanya di dalam bungkusan itu ada benda yang digenggam Randa waktu
kecelakaan. Mama belum membuka bungkusan
itu pa…mama takut..bungkusan itu ada di tas mama”
“Iya
ma, sekarang mama tenang dulu ya..” papa Randa berusaha menenangkan
istrinya, walau sebenarnya dia juga
sangat sedih dan takut kalau tejadi apa-apa terhadap anaknya.
Tiba-tiba
saja seorang dokter dan dua perawat masuk ke dalam ruangan Randa, tanpa dikomando mereka berdua langsung
menyusul masuk.
“Apa
yang terjadi sama anak saya dok?” Mama
Randa bertanya was-was.
“Maaf
bu..tunggu sebentar, kami ingin
memeriksa pasien dulu..” salah satu
perawat menyingkirkan orang tua Randa menjauh dari ranjang pasien.
Mata
dari kedua orang tua Randa tak lepas dari kegiatan yang di lakukan tenaga medis
itu, juga alat pendektesi detak jantung
Randa yang kelihatannya semakin lemah.
Lalu hal yang paling ditakutkan mereka pun terjadi, alat pendektesi jantung itu berbunyi lain, bunyi tanda kalau mereka telah kehilangan
anak mereka satu-satunya. Panjang, nyaring,
dan menyesakkan.
“Ini
gak mungkin kan pa..? alat pendektesi
jantung itu salah, pasti alat pendektesi
jantung itu rusak, ini gak boleh terjadi!” mama Randa benar-benar tak percaya dengan apa yang
dilihatnya, anak satu-satunya kini tengah tiada, berubah menjadi tubuh yang
dingin tanpa nyawa.
“Ma..sudah
ma…Randa sudah pergi ma…” papa Randa
memeluk istrinya, hatinya menangis saat
ini.
“Dokter! saya akan bayar berapa pun biayanya!…saya
mohon, jangan biarkan Randa mati! Tolong dokter!” mama Randa tiba-tiba berteriak memohon.
“Maaf
kan kami bu, kami sudah berusaha, Ia mengalami pendarahan serius di otaknya. Walau pun kami berhasil menyelamatkan
hidupnya, seluruh tubuhnya akan lumpuh. Kami turut berduka cita, Permisi bu”
setelah berkata begitu dokter dan dua perawat itu pergi, meninggalkan mereka berdua untuk melihat
Randa terakhir kalinya. Tangis
dan histeris dari kedua orang tuanya mengantarkan kepergiannya…..
⃰ ⃰ ⃰
Senin,
31 Agustus 2009 05:30 sore
“Mba
permisi, mau tanya nih” Randa memanggil penjaga toko perhiasan dimana
sekarang dia berada.
“Ya
mas, ada yang bisa saya bantu?”
“Ehm, begini loh mba, 1
bulan yang lalu saya ada pesan cincin emas
putih sepasang di sini, minta pake nama
gitu, pemesananya sih untuk besok tapi
katanya hari ini cincin itu sudah datang, jadi
saya mau mengambilnya”
“Sebentar
ya mas saya cek dulu, nama mas siapa?
Dan nama di cincinnya siapa?”
“Oh
iya, nama lengkap saya Michael
Randa, dan nama di cincin yang saya
pesan, Randa sama Rita mba”
wanita
itu langsung membolak-balikan buku pesanan,
mencari nama lengkap Randa.
“Iya
ada mas, sudah datang, sebentar saya ambilkan ya mas..” setelah berkata begitu wanita itu langsung
pergi mengambil cincin pesanan Randa.
Tak berapa lama dia kembali dengan kotak cincin yang berwarna hitam.
“Nah, ini mas,
Silahkan dicek dulu..”
“Makasih
mba..” Randa menerima cincin
pesanannya, memperhatikannya sebentar
dan tersenyum senang.
“Wah, saya puas mba, saya bayar pake kartu kredit yah, nih kartunya.. oya bisa minta tolong gak mba? Tolong tuliskan di kartu ucapan ini ‘buat
Rita ku tercinta, met ultah ke-20 yah. Rita maukah kau menjadi pendamping hidupku?, ku harap aku mendapat jawaban iya dari mulut
manismu, dari Michael Randa mu tersayang’
boleh yah…tulisan saya jelek mba…”
Randa memasang wajah memohon di hadapan wanita itu. wanita itu mengambil kartu kredit dan kartu
ucapan yang disodorkan Randa.
“Baiklah, saya senang mas puas atas hasil kerja
kami. oya cincin itu spesial mas, namanya power of love, makanya cincin itu bermatakan berlian
berbentuk hati dengan desain yang indah..pas banget buat cincin tunangan atau
cincin nikah..pasti pasangan mas
gembira sekali diberikan barang spesial seperti ini, nah ini mas kartu kredit dan kartu ucapannya” kata wanita tersebut sambil menyerahkan kartu ucapan dan
kartu kredut randa.
“Karena
itulah saya membeli cincin ini, terima
kasih banyak yah mba.” Randa tersenyum.
“Ya
sama-sama, datang lagi ya mas”
Randa
keluar dari toko tersebut, dia
menimang-nimang kotak kecil tempat cincinnya.
‘Rita
pasti gak akan pernah melupakan ultahnya tahun ini...’ gumam Randa dalam hati.
“Oh
ya, aku mau liat cincin ini sekali lagi
ah..”
Randa
membuka kotak cincinnya, mengeluarkan
satu cincin yang ukurannya lebih kecil dan…
“Akh, jatuh lagi!
Mana tadi? Astaga kok bisa
menggelinding sampai sejauh itu sih?”
Randa
berjalan hendak mengambil cincin yang jatuh tadi, cincin itu menggelinding hampir ke tengah
jalan.
“Nah
untung gak menggelinding jauh, kalau sampai hilang bisa berabe nih”
Randa
memungut cincin itu, memasukannya
kembali ke kotaknya, dan hendak berbalik untuk pulang. Namun tanpa disangka sebuah mobil yang
berkecepatan tinggi menabraknya,
tubuhnya terhempas ke pinggir jalan dan kepalanya menghantam trotoar, tubuh serta kepalanya mengeluarkan darah
segar. supir mobil yang menabraknya
bersikap pengecut, dia langsung kabur
tak perduli terhadap keadaan Randa dan teriakan warga sekitar yang menyuruhnya
berhenti. Randa merasakan sakit yang
luar biasa, hal terakhir yang dia ingat
hanya wajah Rita yang tersenyum padanya dan cincin yang dia genggam
sekarang, lalu… dunia pun kelam.
⃰
⃰ ⃰
Senin,
31 Agustus 2009 02:00 siang
Di
bangku yang letaknya di bawah pohon mangga di pinggir halaman panti, Randa dan Rita sedang bercengkrama, memang tempat itu strategis buat
mengobrol. Tempat itu sejuk, karena rindangya daun mangga melindungi mereka
dari panas matahari yang menyengat.
“Yang, tanggal 1 september besok, kamu ingat gak hari apa?” Rita membuka percakapan sambil memperhatikan wajah
Randa.
“Hari
apa ya, selasa kali, kenapa
memangnya?”
“Ih, kamu itu loh,
bukan nama harinya, tapi
memperingati hari apa tanggal 1 itu..awas kamu bilang lupa ya” Rita ngambek,
bibirnya sengaja dia mancungkan lebih mancung dari hidungnya sendiri.
“Iya, iya maaf,
aku gak
lupa, itu hari ultah yayangku yang tercantik
ini kan? Masa aku melupakan hari
pentingmu, aku begitu mencintai kamu
Rita..”
“Dasar
gombal, nah kata Ibu panti hari ultah ku
nanti aku boleh ngadain pesta kecil-kecilan,
kamu pokoknya harus dateng bareng om sama tante, Yah sayang ya…” Rita memohon sambil tersenyum, senyum yang telah membuat Randa jatuh cinta
pada dirinya.
“Wah, senyum satu juta wattnya keluar, gak kuku..hehehehe, em,
ntar ku atur deh, pasti aku
datang sama ortu ku. Masa acara ultah calon
menantu mereka, mereka gak datang.
Wah keterlaluan itu namanya sayang” perkataan Randa tadi membuat Rita tersipu.
“Iya
calon menantu…, ya udah aku masih ada
tugas di dalam. kamu mau pulang atau mau
bantuin aku di sini yang?”
“Yah
pasti aku mau bantuin kamu lah yang..yuk
kita masuk dan menyelesaikan tugasmu..”
Randa bangkit sambil menggandeng tangan Rita, mereka tertawa bersama.
Tak
menyadari, kalau akan terjadi sesuatu
yang memisahkan mereka. Sesuatu yang
bernama takdir.
⃰ ⃰
⃰
Selasa,
1 September 2009 10:20 pagi
“Waktunya
sudah tiba” suara berat itu membuyarkan
lamunanku. Aku tersentak dan
memandanginya. ‘ah, waktuku sudah habis’ aku menggumam dalam hati.
“Baiklah, terima kasih atas waktu yang telah kau
berikan padaku” ucapku padanya, sosok yang sebenarnya aku tak kenali,
tapi entah mengapa perasaanku seperti bertemu dengan seorang kawan lama saat
menatapnya.
“Kalian
memang tak berjodoh di dunia fana ini,
tapi ketahuilah bahwa cinta yang tak
mempunyai AKHIR itulah yang dinamakan cinta yang abadi” kata-kata darinya barusan membuatku tersenyum. Akupun
menatap Rita, dia sudah tak sehisteris
tadi. Sekarang dia sedang dibantu
berdiri oleh mama. Sepertinya Rita sudah
berhasil di bujuk untuk pulang.
Tuhan.., ku harap cinta kami benar takkan lekang oleh
waktu. Rita....selama kau hidup dan mengingatku, maka akupun
akan tetap hidup dalam dirimu bukan? Jangan bersedih sayang, ikhlaskan diriku.
Yah..Aku, Michael Randa, ternyata memang sangat mencintai seorang
Marita Anjani. Sangat ku sadari itu
sekarang,
Lalu seiring dengan hilangnya
aku, ku titipkan kata pada angin untukmu
Rita.
“Selamat
tinggal…”
***
BY : MENTARI ARDINI
By : Rie Chan

Balikpapan