Hit counter
Tampilkan postingan dengan label cerbung (cerita bersambung). Tampilkan semua postingan
Love is Life (and) Life is Tears in Heaven (Chap 3)
0
Chap 3
Chap 3
Suara
binatang malam semakin terdengar di tengah keheningan yang menjadi. Biebi duduk
di pinggir tempat tidurnya dengan sikap diam, percakapan di telepon dengan
neneknya setengah jam lalu masih terngiang-ngiang di pikirannya, memusnahkan
rasa laparnya sehingga dia langsung kembali ke kamar tidur setelah mematikan
kompor.
“Narumi ada di
Indonesia, Bie. Mungkin dia akan mendatangimu sebentar lagi. Bersiaplah untuk
menyambut calon suamimu itu.”
Itulah
pesan terakhir dari neneknya sebelum menutup telepon. Dalam kegalauan yang
menerpa, Biebi menatap balkon kamarnya, ada dorongan untuk menuju balkon dan
mengintip suasana rumah kosong yang ada di sebelah kiri rumahnya itu. Dorongan
itu semakin kuat dan menyudutkannya, sehingga akhirnya dia menyerah.
Dengan
perlahan Biebi bangkit dan melangkahkan kaki ke sana, angin malam yang dingin
langsung menerpanya begitu sampai di depan pagar balkon miliknya. Dengan
bersender di pagar balkon dia menengokan kepalanya ke arah halaman yang ada di
depan rumah kosong itu. Di sana hanya ada kesunyian dan taman bermandikan cahaya
remang-remang yang berasal dari beberapa lampu di atas pagar. Beberapa menit
pun berlalu dalam keheningan.
“Apa
benar Narumi di Indonesia? Apa mungkin Narumilah yang akan tinggal di sebelah?
Apa dia sekarang sedang merencanakan sesuatu?”
Biebi
menepuk jidatnya sendiri, dia merasa bodoh saat menyadari kalau sekarang
pikirannya sudah terpengaruh oleh gosip yang mamanya berikan tadi. Dengan
geleng-geleng kepala Biebi hendak kembali ke tempat tidurnya dan berusaha untuk
melupakan masalah calon suaminya tersebut, tapi belum juga niat itu terlaksana
Biebi menangkap sesuatu yang bergerak di halaman itu dengan ekor matanya. Dia
terperanjat dan dengan refleks menutup mulutnya agar tidak berteriak saat
melihat ‘apa’ yang bergerak itu. Di sana! Tepat di halaman rumah kosong itu!
ada seorang laki-laki yang merayap di rerumputan dan tiba-tiba menengok ke
arahnya!
***
“Ada
apa?” tanya seorang lelaki yang muncul secara perlahan dari balik pintu rumah
tingkat 2 yang baru saja mereka tempati. Kaos hijau melekat di tubuhnya yang
mungil namun berbentuk indah karena hasil fitnes yang teratur. Celana pendeknya
yang berwarna abu-abu pun seakan ‘sempurna’ dipakai olehnya.
Dia
bertanya pada laki-laki yang sedang tersenyum ke arah balkon rumah di samping
rumah mereka.
“Aku
melihatnya” jawabnya disertai senyum yang melebar ke arah sang penanya, lalu
berjalan ke arahnya dengan santai. Beberapa kancing atas kemeja putihnya
terbuka, berantakan, berlumpur, begitu juga dengan celana panjang hitamnya. Tapi
itu semua tak bisa menghilangkan pesonanya.
“Bagaimana
menurutmu?”
Laki-laki
itu sudah berada di samping sang penanya dan menatap wajah sang penanya
tersebut untuk beberapa saat. Mata yang selaksana langit malam tanpa bintang
miliknya menyiratkan sesuatu.
“Bahkan
dengan melihatnya dalam kesamaran pun aku tahu dia memang cantik”
“Baguslah
kalau begitu”
“Hn”
“Hei...
bisakah kau hilangkan du─”
“Apa
kau tetap pada keputusanmu?”
Hening.
Mereka berdua hanya berdiam diri untuk beberapa saat. Lalu laki-laki berbaju
hijau tersebut melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dengan berdecak kesal
laki-laki yang memakai kemeja putih menyusulnya setelah menutup pintu. Dia
perlu berjalan 2 kali lebih cepat agar bisa mencegat laki-laki berbaju hijau
masuk ke dalam kamar dan menggantung pembicaraan mereka.
“Hei!
Tunggu aku!”
Sekali
mengayunkan tangannya, dia memutar tubuh laki-laki itu menghadapnya.
Dilihatnya
sepasang mata hijau yang berkabut, membuatnya terhenyak dan merasa seakan
terhimpit dunia.
“Apa
menurutmu aku akan menghancurkanmu?” tanyanya serak. Susah baginya mengatur
suaranya agar tetap seperti biasa disaat mata hijau itu telah menembus
jantungnya.
Laki-laki
itu tersenyum, mengangkat kedua tangannya untuk menelusupi kemeja putih di
depannya dan menempelkannya tepat di atas detak kehidupan yang merintih memohon
ampun.
“Hatimu
tidaklah seperti besi. Jika menghancurkan diriku saja kau tak bisa, bagaimana kau
akan melaksanakan tujuanmu?”
“....”
“Kau
bisa mengubah tujuanmu sekarang, jika pagi telah tiba semuanya sudah terlambat.”
“Kenapa
kau di sini?”
“Untuk
membantumu tentu saja”
“Yah,
kau ada untuk membantuku. Kau ada di sini untuk membantuku menghancurkan diriku
sendiri secara perlahan”
***
“Bie...”
“....”
“Biebi...?”
“....”
“BIEBI!”
“Akh!”
Biebi sontak menjauhkan smartphone-nya
dari telinganya yang berdenging. “Ih! Apaan sih?! ngga perlu pakai teriak
segala kan?”
“Ngga
perlu bagaimana? Orang kamunya aku panggil-panggil ngga denger-denger kok!”
“Itu
aku lagi mikir, bukan ngga lagi dengerin”
“Alasan
basi lagi!”
Biebi
sedikit tersenyum saat mendengar jawaban itu, memang benar dia hanya beralasan
saja saat mengatakan dia sedang berpikir, sebenarnya pikirannya sedang
terbang-terbang entah ke mana.
Saat
ini Biebi sedang berada di kantornya, dan dia sedang berbicara dengan Rurie di
telepon.
“Ya
sudah, sekarang kamu mau bagaimana?”
“Aku
ngga tau, Bie. Aku bingung, kan kamu tahu sendiri aku ini payah dalam hal
berteman dengan lawan jenis. Dia kemarin nanyain aku apa ada waktu luang buat
hari sabtu ini? tapi aku belum jawab”
Biebi
memutar bola matanya, lalu mengambil selembar kertas HVS dari laci meja
kerjanya.
“Kurasa
kau harus memutuskan hal seperti ini tanpa menanyaiku terlebih dahulu. Jawab
saja apa yang memang kamu inginkan. Dan juga, apa ruginya berteman dengannya?
Anaknya baik kok, tampan lagi. Seleramu banget kan?”
“I-iya
sih. Baiklah, aku akan menjawabnya siang nanti, kalau dia bertanya lagi. Aaakh~
aku jadi pusing sendiri”
“Sebagai
orang yang mengenal kalian berdua, aku tahu kalian pasti akan cepat akrab. Rie,
teleponnya sudahan yah. Aku masih banyak kerjaan, ngga sepertimu yang lebih
santai. Semoga berhasil kencannya, Bye....”
Sambungan
telepon terputus, menyisakan Biebi yang sedang tersenyum ringan memandang smartphonenya. Dia masih sulit percaya
dengan apa yang sudah diceritakan Rurie padanya pagi ini.
Biebi
mengambil polpen merah di dekatnya. Dia mulai menuliskan apa inti cerita Rurie
padanya sambil sesekali mengerutkan kening di kertas HVS yang sebelumnya memang
sudah tersedia.
Biebi
menatap kertas HVS yang tergeletak tak berdaya di depannya, coretan merah yang
ada di sana membuat Biebi menaikkan sebelah alis.
Anan langsung
kembali ke Restoran Sunrise begitu pulang dari kantor untuk menemui Rurie (saat
itu dia tiba-tiba menjadi aneh begitu mengetahui siapa Rurie sebenarnya). Anan
entah bagaimana berhasil membuat Rurie menyerahkan Nomor teleponnya (walau aku
tidak terlalu kaget dia berhasil mendapatkan nomor telepon Rurie karena dia
memang ahli dalam hal ‘mendapatkan’ sesuatu sebagai Sekretarisku). Anan langsung
mengajak Rurie bertemu di hari sabtu ini (bukankah itu terlalu cepat? Apa Anan
jatuh cinta pada pandangan pertama dan tergila-gila?).
“Ternyata
Anan tertarik dengan wanita seperti Rurie. Hem...ini hal yang bagus untuk
Rurie, walau sedikit aneh untuk seorang Anan. Apa yang sedang dicarinya?”
Coretan
Biebi terhenti ketika pintu ruangannya diketuk perlahan dan terbuka untuk
menampilkan sosok Anan yang tengah memegang sebuah paket berbentuk kotak coklat
berukuran sedang.
“Permisi
Bu, saya baru saja menerima paket ini dari Pak Reno” kata Anan sambil
meletakkan paket tersebut di atas meja Biebi.
Setelah
menaruh kertas yang dia baca tadi ke dalam laci, Biebi mengambil Paket itu dan
mencari tahu siapa pengirimnya. Tapi nama pengirimnya tidak ada, hanya ada nama
penerimanya saja. Paket itu ditujukan langsung kepada Biebi Leonita, tanpa
embel-embel ‘Bu’ atau ‘Yth’ di Hotel Goddess.
“Pak
Reno tidak bilang ini dari siapa, Nan?” tanya Biebi kepada Anan yang berdiri
tak jauh darinya.
“Tidak,
Bu. Begitu menerima paket ini saya sendiri kaget, karena baru kali ini petugas
security mengantarkan paket langsung ke saya. Saat saya bertanya kenapa Pak
Reno memberikan langsung ke saya, beliau hanya bilang kalau paket ini titipan
dari seorang laki-laki yang juga dititipin dari orang lain. Dan orang itu
berpesan agar paket ini langsung diberikan kepada Ibu tanpa ditunda-tunda lagi,
karena paket ini berisi hal yang sangat penting, hal yang sangat Ibu butuhkan
sekarang”
Biebi
menatap paket itu seksama, kemudian menatap Anan sambil tersenyum.
“Ya
sudah, lanjutkan pekerjaanmu. Terima kasih.”
“Baik,
Bu.” Anan pergi keluar ruangan, meninggalkan Biebi dengan paket misterius itu.
Biebi
menerka-nerka siapa yang telah memberikannya lelucon ini, paket tanpa nama
pengirim merupakan lelucon pasti baginya. Setelah mengambil cutter
di kotak kecil tempat alat-alat tulisnya berada, Biebi membuka perlahan paket
itu.
Mata
Biebi membulat sempurna saat paket itu terbuka seutuhnya, paket yang berupa
kotak hitam bersampul kertas coklat itu benar-benar membuat Biebi susah
berkata-kata.
“Oh
My God...” hanya itu yang bisa meluncur dari bibirnya setelah bersusah payah.
Kotak
hitam itu berisi sepaket perhiasan emas putih bertahtakan berlian mewah.
Sebuah
lelucon yang tak bisa dianggap remeh oleh semua wanita.
***
Anan,
Pak Reno dan Biebi sama-sama duduk di kursi yang ada di dalam ruangan Biebi.
Dengan tangan yang memegang kotak perhiasan yang baru saja dia terima, Biebi bertanya
untuk ke-3 kalinya kepada Pak Reno ‘apa benar orang yang menitipkan paket
padanya itu tidak memberitahukan detail siapa pengirimnya?’.
“Saya
benar-benar tidak tahu, Bu. Mas-mas tadi itu hanya memberitahukan ke saya kalau
paket itu untuk Ibu. Kalau paket itu sangat penting. Ketika saya bertanya ‘dari
siapa?’ dia bilang kalau paket itu juga titipan dari orang lain, seorang
laki-laki juga. Tidak ada yang lain lagi.”
Biebi
menatap Pak Reno, merasakan kalau apa yang dilakukannya akan berakhir sia-sia
saja dia menyuruh Pak Reno pergi untuk kembali berkerja.
“Bu,
apa perlu saya menyelidikinya?” tanya Anan begitu Pak Reno sudah tak ada di
ruangan.
“Kalau
kamu bisa.
Lakukan. Tapi ingat
jangan sampai hal ini tersebar ke luar. Aku tidak suka diburu wartawan. Ini
kotak perhiasannya.”
“Baik,
Bu. Saya akan segera memulainya sekarang, permisi Bu.” Sambil membawa kotak
perhiasan yang diberikan Biebi, Anan pun pergi.
Biebi
memijit pelipisnya, dia mengambil smartphone-nya dan mencari nama
seseorang yang entah dia rasa butuhkan sekarang. Nama itu sudah ditemukannya,
namun hanya dipandang tanpa diberikan tindakan.
“Wowong...”
***
Biebi
dan Anan pergi makan siang bersama di Restoran Sunrise, mereka sedang
membicarakan bahan rapat yang akan dilaksanakan esok hari. Semula mereka
terlihat sangat serius dan tak menghiraukan keadaan sekitar, tapi semua berubah
saat Biebi tak sengaja melihat seseorang yang dia kenal sedang memasuki
Restoran.
“Kenapa
dia ada di sini?” ucapnya tanpa sadar.
Anan
yang tadi sedang berkonsentrasi dengan notebook-nya
kini mengikuti arah pandangan Biebi.
“Laki-laki
itu?” tanyanya kepada Biebi sambil melihat seorang lelaki yang sedang berjalan
menuju salah satu meja yang tak jauh dari mereka. Laki-laki itu mengenakan setelan
T-shirt abu-abu dan celana Jeans biru serta
membawa tas selempang berwarna coklat tua.
“A?! oh, iya. Dia”
“Memangnya
siapa dia?” Anan kini memandang Biebi, merasa dari nada jawaban Biebi tadi Anan
sudah punya satu tebakan jitu. Tapi dia tetap menanyakannya.
“Kau
ingat pembicaraan kita di kantor waktu itu, yang tentang ku─”
“Onee-chan!” seruan itu membuat semua
mata menengok pada sang penyeru karena sangking nyaringnya, tidak terkecuali
Biebi dan juga Anan.
Sang
penyeru yang tak lain adalah laki-laki yang sedang Biebi dan Anan bicarakan itu
berjalan cepat ke arah mereka, senyumnya mengembang seakan baru saja menemukan
makanan manis favoritnya.
“Onee-chan! Aku tak menyangka kita akan
berjumpa di sini” katanya riang.
“Ya,
ya, ya. Sekarang duduklah sebelum menambahku malu, Wong” Biebi menarik tangan
mungil itu dan tersenyum singkat kepada pengunjung Restoran lain. Kini Wowong
ikut bergabung di meja mereka, dia mengambil salah satu kursi yang ada di
dekatnya dan duduk di samping Biebi.
“Kenapa
kau ada di sini?” tanya Biebi pada Wowong.
“Tentu
saja untuk makan, memangnya untuk apa lagi?” jawabnya dengan wajah tanpa dosa.
Anan
tak sengaja tertawa perlahan. Biebi yang melihatnya memberikan deathglare
terbaiknya pada Anan.
“Onee-chan, siapa laki-laki ini? Apa dia
kekasihmu? Apa ini berarti aku akan patah hati?”
Biebi
menahan keinginannya untuk membekap mulut manis yang terlalu banyak bertanya
itu.
“Bisa
tidak kau diam saja? Dan jangan bertanya hal-hal aneh seperti itu!”
“Itu
tidak aneh, Nee-chan. Aku
menanyakannya karena aku menyayangimu”
“KAU....”
“Biar
kutebak!─ucap Anan memotong perkelahian di depannya─dia ‘kucing’ itu kan?” tanya Anan dengan
senyum tertahan.
“Aku?
Kucing? Ne-neko?! Hei! Aku bukan Neko!” kata Wowong sambil melotot dan menunjuk
dirinya sendiri.
“Oya?
Jadi benar bukan dia, Bie?” tanya Anan kepada Biebi tanpa menghiraukan Wowong
yang sudah memerah di tempat duduknya.
“Kalian
kenapa jadi menyebalkan begini sih? Akh! Aku jadi pusing nih!”
Wowong
dan Anan hendak memberikan jawaban masing-masing, tapi disela oleh suara
seorang wanita.
“Wah,
wah, wah. Saat mendapat laporan dari karyawanku tentang pelanggan yang terlalu
ribut, aku tak menyangka akan menjumpai kalian”
“Rurie...”
ucap Anan dan Biebi bersamaan, sedangkan
Wowong hanya menatap wanita itu dengan tatapan “siapa ini?”
Rurie menatap Anan sekilas, lalu mengalihkan
pandangannya kepada Biebi.
“Aneh rasanya melihatmu salah tingkah seperti itu,
Bie”
“Apa maksudmu?”
Rurie tidak menjawab pertanyaan Biebi, dia mengambil
salah satu kursi yang ada dan langsung ikut bergabung di meja itu. Dia memilih duduk di samping Anan.
“Hai, aku Rurie, aku temannya Biebi. Kamu siapa?”
Rurie mengulurkan tangannya kepada Wowong, tindakan
itu membuat Biebi dan Anan terkejut. Sedangkan Wowong menyambut uluran tangan
itu dengan wajah berseri.
“Hai juga, panggil saja aku Wowong. Aku Otouto-nya Biebi nee-chan. Senang
berkenalan denganmu, Rie”
“Otouto? Adik?!
Hem… sepertinya aku ‘mencium’ sesuatu”.
Biebi menggelengkan kepalanya perlahan, dia tahu Rurie
akan mencerewetinya nanti.
“Apa kalian sudah selesai dengan perkenalan ini?”
Tanya Biebi sedikit ketus. dia ingin mengucapkan sesuatu yang lain, tapi
pelayan datang dan membawakan makanan untuk Rurie serta Wowong.
Setelah pelayan pergi, Biebi mengira semua ‘kekacauan’
akan ikut pergi bersama hilangnya pelayan itu dari pandangan. Tapi…
“Nah Wong, bisa kau ceritakan bagaimana bisa kau
bertemu Biebi dan menjadi Otouto-nya?”
Rurie memulai introgasinya.
***
BY : MENTARI ARDINI
To
be continued~
#Cerbung ini akan terus saya lanjutkan, tapi yah waktu update-nya ngga nentu. Terima kasih bagi yang masih mengikuti Cerbung ini, baik yang 'meninggalkan jejak' maupun tidak :D.
Semoga sukses buat kalian :'D
By : Rie Chan
Love is Life (and) Life is Tears in Heaven (Chap. 2)
2
Chap. 2
Chap. 2
Biebi
pusing tujuh keliling. Dia bolak-balik di dekat meja kerjanya yang sepenuhnya
terabaikan, Anan yang sejak tadi berdiri di sudut meja hanya bisa berdiam diri
menunggu bosnya itu berhenti melakukan gerakan ‘setrika terlanjur panas’ dan
menandatangani berkas yang dibawanya 8 menit lalu.
“Anan!”
panggil Biebi tiba-tiba yang membuat si pemilik nama terkejut. Biebi sudah
menghentikan kegiatannya, sekarang dia berjalan mendekati Anan.
“Iya
Bu, ada apa?” Anan heran mendapati wajah Biebi menunjukkan mimik bingung saat
menatapnya.
“Kenapa
kamu ada di sini?” tanya Biebi yang membuat Anan cengo sesaat. Setelah berhasil
menguasai dirinya, Anan menjelaskan perihal kehadirannya─lagi.
“Saya
menunggu Ibu menandatangani berkas yang saya bawa ini, Bu. Karena berkas ini
harus saya bawa kembali untuk diserahkan ke Pak Azam”
“Loh?
kenapa kamu tidak memberitahu saya sejak tadi? Sini berkasnya.” Biebi
menadahkan tangan dengan sentakan cepat.
Anan
memberikan berkas yang dia bawa untuk ditandatangani Biebi sambil tersenyum
simpul.
“Sejak
saya masuk, Ibu sudah berjalan bolak-balik tanpa menghiraukan panggilan saya
yang berulang kali, Ibu malah mengatakan ‘Diam dan Tunggu dulu’ dengan nada
mengancam ke saya Bu.”
Mendengar
jawaban Anan membuat Biebi mencari sesuatu untuk ditatap, telepon, sepatunya,
Plafon, atau apa pun, untuk mengalihkan rasa malu yang merayapinya. Diraihnya
polpen yang ada di atas meja, lalu menandatangani berkas yang diberikan Anan
setelah membacanya.
“Ini
berkasnya. Cepat kembali bekerja.”
Seraya menyerahkan kembali berkas yang tadi dibawa Anan, Biebi
menyertakan secarik kertas di atas berkas tersebut.
Anan
terkejut mendapati apa yang tertulis di secarik kertas tersebut, dia melangkah
keluar meninggalkan Biebi yang sekarang sedang berkutat dengan tumpukan berkas
kerjanya yang lain.
‘Makan
siang, C 437p, Restoran Sunrise’
Anan
tertawa perlahan.
“Benar-benar
khas Biebi Leonita”
***
Suasana
memang ramai di saat jam makan siang seperti ini. Untung saja mereka masih
mendapatkan meja, Biebi dan Anan mengambil meja yang berada di non-smoking area. Setelah Biebi duduk,
Anan segera meletakkan tasnya di bangku yang berseberangan dengan bangku Biebi.
“Bu,
saya mau pesan makanan, Ibu mau makan apa?”
“Ceker
setan*, Nan. Jangan lupa minumnya jus mangga.”
“Baik,
Bu. Tunggu sebentar, saya pesankan dulu.”
Setelah
Anan berlalu dari hadapannya, Biebi mengeluarkan smartphone-nya dan mulai mengetik SMS kepada seseorang, tak perlu
memakan waktu yang lama SMS-nya terbalas dan membuat dia tertawa.
From
: Rurie_gula
Baik
Nona, sebentar lagi pelayanan VIP anda bisa terlaksana.
Percakapan
lewat media SMS itu terus berlanjut, sampai akhirnya Anan kembali dengan nomor
meja 28 sambil tersenyum karena melihat Biebi tertawa lepas.
“Wah,
Ibu sepertinya sedang senang.” Tegur Anan lalu duduk memangku tasnya. Biebi
melirik sekilas mendengar teguran Anan lalu kembali menatap smartphone-nya dengan antusias.
“Sudahlah,
jangan kau hiraukan.”
“....”
“....”
“Hem,
jadi..., apa yang sebenarnya terjadi sampai Ibu harus menggunakan kode C 437p?”
Pertanyaan
Anan menghentikan ketikan tangan Biebi di smartphone-nya,
matanya menatap langsung ke mata Anan dengan serius.
“Anan,
ini benar-benar C 437p! Kali ini stadium 4. Kau harus membantu menyelesaikannya.”
“Stadium
4?! Separah itu? baiklah, tentu saja saya siap membantu Ibu”
Anan
memperbaiki posisi duduknya, sedikit mencondongkan tubuh ke arah Biebi agar
bisa lebih konsentrasi mendengar hal yang akan diceritakan Biebi padanya.
Sedangkan Biebi sudah menyingkirkan smartphone-nya
seraya melipat kedua tangan di atas meja, seperti anak kecil yang disuruh duduk
manis di TK
“Sebelum
saya menceritakannya─Biebi menyipitkan
kedua matanya ke arah Anan─kita singkirkan dulu keformalan yang ada.
Bukankah sejak dulu saya sudah bilang padamu, kalau di luar kantor dan di luar
jam kerja seperti makan siang sekarang kau boleh memperlakukan dan berbicara
padaku seperti seorang teman. Jadi hilangkan kata ‘Bu’ itu.”
DEG!
Anan langsung terdiam. Bukannya Anan tidak mau memperlakukan dan berbicara
kepada Biebi seperti dia melakukannya terhadap teman-temannya. Hanya saja
baginya, rasa keraguan dan menghargai posisi Biebi lebih besar, hal itulah yang
membuat dia selalu lupa akan kesepakatan yang dibuatnya bersama Biebi saat
pertama kali masuk kerja dahulu.
“Baiklah
Bu─Biebi maksud saya, eh! aku” Anan jadi salah tingkah karena mengubah
panggilan saat itu juga. Lidahnya tak sinkron dengan otaknya.
“Hahahaha,
manisnya...” tanpa sadar kata itu terlontar dari bibir Biebi, seketika juga
Biebi menutup mulutnya, sedangkan Anan sudah merona di tempatnya. Itu kata-kata terlarang untuk laki-laki, menurut Anan
tentunya.
“E-ehem,
kita kembali ke topik pembicaraan semula, Nan. Nah, jadi begini....”
Biebi
menceritakan peristiwa yang terjadi padanya 2 malam lalu, saat Neneknya membawa
kabar yang benar-benar menggangu pikirannya.
Betepatan akhir cerita, Biebi
menjadi bahan tertawaan Anan.
"Hahahaha, tidak disangka kalau Pres.dir bisa seperti ini. Dan
yang bikin makin lucu beliau menjodohkan anda yang seperti ini?? Hahahha"
Anan tertawa lepas tanpa berpikir ulang apa yang sudah dia katakan, tak
disadarinya Biebi sudah memasang raut wajah yang cukup mengerikan.
"Aku yang seperti ini? Apa maksudmu?" Tanya
Biebi menyelidik.
"A-anu... Maksudku..., ka-kau kan termasuk tipe
orang yang tak menyukai perjodohan yang identik dengan zaman dulu, kekunoan
yang tak menyenangkan" Anan menjelaskan dengan kikuk.
"Hem, yah... Begitulah. Tapi Nenekku tak mengerti zaman sudah berubah."
"Hufthh...,
safe!"
Kata Anan di
dalam hati. Tentu saja bukan itu penjelasan sebenarnya, hampir dia membalik ‘piring nasinya’ selama ini.
"Jadi, apa yang sudah kau lakukan setelah
mendapat kabar ini?"
Biebi mengambil kembali smartphonenya, lalu mengutak-atiknya sebentar dan langsung
menyodorkannya ke hadapan Anan.
"Lihatlah sendiri."
Anan mengambil smartphone
itu, memperhatikan apa yang terpampang di sana. Wajah Anan seketika serius, dia
bisa menebak apa yang akan bosnya ini lakukan, tapi kali ini benar-benar di
luar dugaan.
"Ini semua kau yang membuatnya?" Tanya Anan
sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Yah, aku membuatnya. Dimulai sejak kepulangan
Nenekku setelah makan malam itu."
Anan berpikir sejenak, dia bisa saja tertawa sekarang
atas pekerjaan Biebi, atau bahkan sebaliknya untuk merasa was-was kalau Biebi
punya kemungkinan menjadi seorang detektif atau parahnya seorang stalker, bahkan
psikopat(?). Karena yang
terpampang di layar smartphone Biebi
adalah data tentang keluarga Pres.dir Hachiouji.
“Kau
dapatkan darimana semua ini?” tanya Anan yang semakin penasaran.
“Mudah
saja, hanya dengan menggunakan Google"
Jawaban
santai Biebi itu, membuat Anan merasa bodoh, seharusnya dia bisa menebak hal
mudah seperti itu. Anan mulai membaca data yang ada di layar smartphone itu dengan seksama.
“Hem...,
jadi Pres.dir
Hachiouji Yagami memiliki 1 orang istri yang dikenal bernama Nanami
yah. Memiliki 1 orang putri dan
2 orang putra, putri sulungnya Hachiouji Minami sudah menikah 2
tahun lalu dan ikut suaminya ke Australia, adiknya Hachiouji Yanami menjadi Direktur New Moon dan masih single, sedangkan si bungsu Hachiouji Narumi berada di Jepang sejak berumur 5
tahun bersama Neneknya. Eh!? bukannya si Bungsu ini yang dijodohkan denganmu?
Apa dia masih di Jepang sana?” Anan bertanya sambil terus melanjutkan membaca
data itu. Setelah membaca data tersebut sampai titik terakhir, lalu ia menatap
Biebi bingung.
“Kenapa data
tentang Narumi sedikit sekali? Hampir 80% data yang ada di sini bersangkutan
dengan anggota keluarganya saja. Lalu yang membuatku makin bingung setelah
selesai membaca data-data ini, kenapa data tentang dia merupakan data masa lalu
yang berkisar dari kelahiran sampai usia 15 tahun? Sedangkan kalau dilihat dari
tanggal lahirnya sekarang dia berusia 21 tahunan.”
Biebi menarik
napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Dia mengambil kembali smartphonenya dari tangan Anan.
“Aku sudah
mencoba mencari data lainnya tentang si Narumi ini, tapi seperti yang kau lihat
data yang aku dapat hanyalah itu saja.”
“Kalau seperti
ini, kita tak mengetahui apa-apa tentang si Narumi yang sekarang. Bagaimana
wajahnya? Apa pekerjaannya? Dan yang terpenting dimana dia sekarang? apakah
masih di Jepang bersama neneknya, atau ada di Singapura? Terlalu misterius.”
Anan memegang hidungnya, ciri khas kalau dia sedang berpikir atau menganalisa
sesuatu.
“Itulah yang
sedang aku pikirkan sekarang. Nenekku menjodohkan aku dengan orang yang tak
jelas keadaannya. Saat ku tanyakan hal yang sama dengan yang kau tanyakan,
Nenekku malah berkata dia juga tak tahu.”
“Eh? kok bisa
begitu?”
“Yah, memang
begitu nyatanya. Walau melihat latar belakang keluarga dan pendidikannya yang
sangat baik, aku tetap tak mau jika ternyata aku dijodohkan dengan seseorang
yang jauh dari standar!” Biebi mendengus kesal. Anan tahu, standar yang dimaksud Biebi di sini adalah
keseluruhan tubuh si Narumi itu, wajahnya, badannya, dan lain-lain. Biasa,
standar seorang wanita tentang sosok
suami yang ideal.
“Kau benar,
Latar belakang keluarga dan pendidikannya tanpa cela Bie, berasal dari keluarga
kaya raya yang terhormat, dan di data terakhirnya dia di usia 15 tahun sudah
menamatkan pendidikan SMA-nya. Benar-benar menakjubkan. Tapi, kau tak usah
bimbang tentang standar. Kalau aku lihat dari foto-fotonya yang terakhir di
usia 15 tahun, dia terlihat cukup tampan, berambut hitam bak jelaga dan
berkulit putih. Ah! Tapi terlihat badannya lumayan kurus.”
“Hufth....”
Biebi hanya bisa menghembuskan napasnya dengan keras. Setelah itu Biebi tak
berkata apa-apa lagi. Walau dia tak menyetujui perjodohan ini, bukan berarti
dia tak ingin tahu ‘siapa’ sebenarnya laki-laki yang berkemungkinan sangat
besar menjadi suaminya itu.
Melihat reaksi
Biebi, Anan memilih ikut diam sambil melihat jendela yang menampilkan keramaian
di luar. Lalu mereka terbuai dalam lamunan masing-masing.
“Permisi!”
Tiba-tiba suara
yang sudah dikenal Biebi selama-bertahun-tahun mengagetkannya, dia menengok ke
belakang, Anan pun mengarahkan tatapannya ke sosok yang sekarang ada di
belakang Biebi.
Tepat di sana,
berdiri seorang wanita berambut hitam sepinggang dan berparas manis yang
mengenakan pakaian pelayan yang berbeda dari pelayan yang lain. Jika pakaian
pelayan yang ada di situ adalah kemeja setelan berwarna kuning gading, pakaian
pelayan yang digunakan wanita itu adalah pakaian pelayan berwarna hitam ala
Maid yang biasa dilihat di restoran atau cafe yang ada di Jepang. Di samping
wanita itu ada kereta makanan yang berisi pesanan Anan, ceker setan dan jus
mangga untuk Biebi serta ayam crispy dan jus alpukat untuk Anan. Biebi
mengangkat tangannya untuk menutup mulut, sedangkan Anan hanya bisa memandang
wanita itu dengan mulut sedikit terbuka. Mereka berdua sudah pasti terkejut
mendapat pemandangan seperti itu.
Wanita itu
mulai menyajikan makanan dan minuman itu di atas meja, lalu membungkuk sebentar
dan tersenyum tipis.
“Tuan dan Nona,
mohon maaf pesanan kalian datang terlambat. Seperti yang kalian lihat hari ini
kami sedikit sibuk, sebagai permintaan maaf kami memberikan 1 kupon istimewa
yang bisa ditukarkan dengan 2 tiket bioskop pada hari minggu ini. Silahkan
diterima.”
Anan
membulatkan matanya, dia tak percaya dengan pendengarannya barusan. Sedangkan
Biebi malah tertawa dibalik tangannya. Hal itu membuat Anan semakin bingung,
dia bingung apakah dia sedang di dunia nyata atau tak disadarinya tiba-tiba
masuk ke dunia aneh? Akh! Dia tak bisa berpikir jernih, apalagi dengan 1 kupon
yang sudah diletakkan wanita itu di meja mereka.
“Hahahaha,
hebat! Benar-benar hebat Rurie! hahaha” Biebi berusaha sekuat tenaga untuk
menahan tawanya, tapi entah mengapa semakin ditahan tawanya malah semakin
kencang.
“Nona! Bisakah
anda menghentikan tawa itu?! anda bisa menggangu pelanggan yang lain.” Wanita
yang dipanggil Rurie itu merona malu, dia melihat ke sekeliling dan mendapati
semua orang yang ada di situ menatapnya dengan seksama. Segera dia membungkuk
seraya mengucapkan permintaan maaf.
“Maaf jika kami
mengganggu kenyamanan anda semua, silahkan nikmati kembali makanan anda.” Ucap
Rurie dan untung saja dipatuhi oleh orang-orang tersebut.
“Ma-maaf.”
Biebi mengatur napas dan mencoba menguasai diri. Setelah dia merasa tenang,
baru dia sadari kalau Anan sedang duduk mematung dengan pandangan kosong.
“Anan!! Oi,
Anan!” panggil Biebi sambil melambaikan tangan di depan wajah Anan.
“Ya-yah?”
“Kau kenapa?”
“Ah! Tidak,
tidak apa-apa.” Anan berusaha fokus kembali, tapi kini tatapannya terkunci pada
Rurie.
Menyadari dia
sedang ditatap dengan intens oleh laki-laki di dekatnya, Rurie langsung
mengambil keputusan untuk segera pergi dari situ.
“Nona, lebih
baik saya kembali bekerja. Selamat menikmati makanan anda” Rurie sudah mulai
melangkah tapi tangannya langsung digenggam oleh Biebi.
“Sudahlah,
hentikan saja sandiwaramu. Setelah kau melakukan semua ini, taruhan kita waktu
itu sudah berakhir kan.”
“Taruhan?” kini
Anan angkat bicara. Biebi langsung menatap Anan dan memberi isyarat dengan
mulut yang mengatakan ‘kantor’ tanpa bersuara. Anan langsung mengerti kalau
Biebi akan menjelaskannya nanti di kantor.
Rurie berbalik
untuk menatap Biebi, dia cemberut dan melepaskan tangannya dari genggaman
Biebi.
“Baguslah kalau
kau sudah puas! Kau membuatku berpakaian seperti ini dan mengantarkan
makananmu. Kau tahu tidak? aku sampai ditertawakan oleh koki gara-gara ini.”
“Bukan salahku
kan? Dulu kau sendiri yang mengatakan kalau kau kalah kau akan berpakaian
seperti ini. Dan lagipula dulu kau bilang akan memakainya seharian penuh sambil
melayani semua orang yang ada di tempatmu berkerja. Berterima kasihlah aku
meringankan beban kekalahanmu dengan menggantinya menjadi satu kali pelayanan
pribadi untukku dan 2 tiket bioskop.”
Jleb! Rurie
mematung, dia tidak bisa membalas perkataan Biebi karena hal itu benar adanya.
“Akh!
Baiklah-baiklah. Terima kasih Nona Biebi Leonita yang terhormat” ucap Rurie
bersungut-sungut. Biebi tersenyum melihat ekspresi Rurie, lalu dia melihat Anan
kembali dan menyadari kalau Anan belum diperkenalkannya dengan Rurie.
“Oya, Rurie,
perkenalkan ini sekretarisku, Anan. Dan Anan, perkenalkan ini temanku, Rurie.”
Rurie dan Anan berjabat
tangan sambil memperkenalkan diri kembali.
“Kau bergabung
saja di sini Rie.” Tawar Biebi dan ditolak Rurie dengan gelengan kuat.
“Aku harus
segera kembali berkerja, jadi aku tidak bisa bergabung di sini dengan kalian.
Nah, aku permisi sekarang, selamat menikmati makanan kalian.”
Rurie berjalan
meninggalkan meja Biebi dan Anan sebelum Biebi berhasil mengeluarkan kata lagi.
Tapi di tengah ruangan dia berhenti dan mengambil smartphonenya yang bergetar di kantong. 1 pesan baru.
From : Biebi_singa
Seharusnya kau
bilang saja ingin sesegera mungkin mengganti pakaian itu.
Sayang sekali
loh Rie. Padahal kamu cocok memakainya XD hahahahaha
“Issh, singa
betina ini!”
Rurie
mempercepat langkahnya, dia bisa mendengar tawa Biebi di balik punggungnya.
***
Setelah sampai
di kantornya yang nyaman, Biebi memilih untuk duduk di sofa yang ada di situ,
Anan yang mengikutinya masuk memilih untuk berdiri tak jauh darinya.
“Sekarang...”
ucap Anan perlahan, “Bisa jelaskan apa yang baru saja terjadi di restoran itu?”
Biebi mengangguk,
dan dengan tangan mempersilahkan Anan untuk duduk juga. Anan mematuhinya, dia
duduk di seberang Biebi.
“Baiklah, jadi
begini ceritanya, Nan. Wanita tadi adalah temanku dari SMP, dulu aku dan dia
pernah bertaruh tentang masa depan kami. Aku bertaruh jika aku tak bisa menjadi
seorang Direktur sebelum berusia 30 tahun, aku akan melingkarkan ular milik
toko hewan Pamannya di badanku selama 1 jam. Dan dia bertaruh kalau dia tak
memiliki satu Restoran di Luar Pulau ini sebelum berusia 30 tahun, dia akan
memakai pakaian Maid dan menjadi
pelayan di tempat dia bekerja selama 1 hari penuh. Dan hasilnya, seperti yang
terjadi tadi. Aku merasa itu terlalu berat untuknya dan menjadikannya 1 kali
pelayanan pribadi saja padaku plus 2
tiket bioskop gratis.”
Anan mengangguk-angguk
mengerti mendengar penjelasan cepat Biebi, lalu tiba-tiba ada pertanyaan yang
terlintas di pikirannya.
“Tapi, kenapa
hukuman itu baru terlaksana sekarang? sedangkan kau menjadi Direktur sudah 3
bulanan lebih, dan juga beberapa kali kita makan di restoran itu aku tak pernah
melihatnya. Kau bilang dia temanmu sejak SMP, kan.”
Biebi berdiri
dan melangkah menuju meja kerjanya, sebelum benar-benar duduk di kursi empuk
berwarna hitam di balik meja kerjanya itu Biebi menatap Anan sambil tertawa pelan.
“Karena, hari
ini adalah hari ulang tahunnya. Dan kau tak pernah melihatnya karena memang
saat kita makan di sana dia sedang tidak ada.”
“Astaga...”
Anan menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat. “Kasihan sekali Rurie, di hari
ulang tahunnya malah seperti ini. Semoga dia tidak dimarahin sama bosnya karena
berpakaian seperti itu saat melayani pelanggan. Dia sangat berani karena
melakukan hal tadi.” Anan bergumam memikirkan kejadian tadi, mendengar gumaman
Anan, Biebi menyahut pelan.
“Siapa yang
akan memarahinya? Kau tenang saja, karena pemilik Restoran itu adalah dirinya
sendiri.”
“EH?!”
“Sebenarnya
hampir seluruh Restoran besar di Pulau ini kepemilikannya, sih. Kau tentu
pernah mendengar nama Bona Hendrawan kan?”
“Bona
Hendrawan? Yang pengusaha sukses di bidang Restoran-restoran mewah di Indonesia
ini?”
“Iya, tepat
sekali! Beliau adalah Ayah dari Rurie Saskia Hendrawan.”
Anan hanya diam
saat mendengar siapa sebenarnya Rurie, dia melepas kacamatanya dan mengelap
lensa kacamata itu dengan sapu tangan bersih yang ada di kantong celananya. Biebi
memperhatikan Anan, ada yang aneh, pikir Biebi saat melihat ekspresi wajah
Anan.
“Nah, karena
jam makan siang sudah berakhir, dan rasa penasaranmu sudah terpenuhi, sebaiknya
kau segera kembali bekerja, Nan” kata Biebi setelah Anan memakai kacamatanya
lagi. Anan mengangguk pelan, lalu keluar dari ruangan itu.
“Aneh, biasanya Anan akan menjawabku, bukan
mengangguk seperti itu” ucap Biebi dalam hatinya.
***
Bagi sebagian
orang, mungkin malam hari adalah waktu yang sangat tepat untuk beristirahat
setelah bekerja seharian. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Biebi, dengan baju
tidur berwarna hijau muda dan rambut cappucinno pendeknya yang tergerai dia
malah asik menghadapi laptop dan mengerjakan tugas yang belum diselesaikannya
di kantor tadi. Sesekali dia menyeruput segelas susu yang dibuatkan mama
beberapa puluh menit lalu. Perhatiannya baru teralihkan dari laptop saat
didengarnya bunyi yang cukup mengganggu, suara perutnya yang meminta diisi.
Ditatapnya jam tangan yang melingkar di pergelangannya, jam itu menunjukkan
pukul 11.45 malam. Dengan gerakan lambat
Biebi mematikan laptop dan mulai melangkah keluar kamar, dia menuju dapur yang
berada di lantai bawah.
“Kau
begadang lagi, Bie?!” suara yang terdengar kesal itu menyambut Biebi ketika
sampai di dapur. Mama menatapnya tajam, dengan satu jari ia menepiskan rambut
coklat panjangnya yang jatuh di keningnya.
“Lalu
apa itu masalah besar, Ma?” Biebi langsung berjalan melewati mamanya menuju
kulkas, karena tuntutan perutnya untuk diisi sudah tidak bisa ditoleransi.
Dengan berjongkok Biebi mencari sesuatu yang biasa dia makan di dalam kulkas.
“Bagimu
mungkin bukan masalah besar, Bie. Tapi bagi Mama? Kamu bisa jatuh sakit kalau
terus begini. Mama khawatir, Bie!”
“Iya,
Ma. Besok ngga begadang lagi. Malam ini ada kerjaan yang harus aku selesaikan.
Dan aku ngga bisa tidur dengan pikiran ‘kerjaan, kerjaan, kerjaan’ yang
menari-nari di pikiranku. Ngomong-ngomong, dimana roti tawarku?” Biebi menatap
mamanya, dia mendapati mamanya hanya geleng-geleng kepala dengan kesal.
“Setiap
dikasih tahu, kamu selalu saja bilang begini. Roti tawarnya habis, kamu masak
mie saja.”
“Iya,
iya” Biebi hanya memutar bola matanya dan mengambil sebungkus mie yang ada di
lemari gantung tak jauh dari kulkas.
“Oiya,
Mama sendiri kenapa begadang? Tumben Mama begadang malam ini, kan ngga ada
sinetron kesukaan Mama” kata Biebi setelah meletakkan panci berisi air di atas
kompor yang menyala.
“Mama
lagi ngga bisa tidur karena kepikiran info yang Pak RT berikan tadi siang.”
Mama langsung duduk di bangku yang ada. Biebi yang tidak ada kegiatan lagi
selain menunggu air mendidih ikut bergabung dengan duduk di samping mamanya.
“Memang
info apa, Ma?”
“Begini,
kata Pak RT, rumah kosong di samping kiri rumah kita mulai besok akan ada
penghuninya, Bie! Rumah itu akhirnya disewa orang!”
“Lah,
terus kenapa? Itu kan kabar baik, Mama kok ngga bisa tidur Cuma gara-gara itu?”
Biebi merasa sedikit kecewa, karena info yang mamanya berikan tidak se’hebat’
pikirannya.
“Ih,
dengarin dulu lanjutannya, Bie! Baru kamu komen.” Mama yang merasa info yang
dia berikan diremehkan merasa kesal juga.
“Emh...”
“Yang
bikin Mama ngga bisa tidur itu, karena Pak RT bilang kalau penghuni baru rumah
itu orang asing! Tepatnya 2 orang asing, deh! 2 orang laki-laki berdarah Jepang!”
jelas mama berapi-api.
“Ma,
kalau orang Jepang kenapa? Ngga aneh, ah”
“Astaga,
kamu ngga akan bilang begini kalau kamu tahu salah satu dari mereka sempat
menanyakan dimana rumah Biebi Leonita”
“Hah?!
Kok bisa gitu?! Kenapa nyariin aku?”
“Nah,
kan! Itu lah pertanyaan Mama ke Pak RT tadi, tapi kata Pak RT dia bukannya
kasih alasannya kenapa tahu nama dan mencarimu, eh, dia malah tersenyum”
“Apa
mungkin mereka pernah menginap di Hotel kita dan merasa tidak puas dengan
pelayanannya?”
“Mama
ngga mikir ke situ, Mama kepikiran kemungkinan lain.”
“Apa
memangnya, Ma?”
“Mama
curiga kalau itu suruhannya Pres.dir Hachiouji untuk mengawasi calon menantunya
alias kamu di Indonesia ini, atau mungkin salah satu dari mereka bahkan sang
adik yang dijodohkan sama kamu itu, ya kan? Bisa jadi kan, Bie?”
Biebi
hanya bisa tertawa mendengar perkataan mamanya, dia berpikir bahwa pemikiran
mamanya telah terkontaminasi sinetron-sinetron yang selalu ditontonnya. Ayolah,
ini kenyataan, bukan sinetron settingan yang tak jelas logikanya.
“Sepertinya
Mama terlalu banyak nonton sinetron, deh. Sudahlah, lebih baik Mama tidur
duluan. Tidak usah berpikir aneh seperti
itu.”
“Ah,
ya sudahlah, Mama kan hanya berpendapat. Mama tidur duluan. Habis ini, kau
langsung tidur. Ingat! Ti-dur!” kata mama dengan penekanan di kata ‘tidur’
seakan Biebi tak mengerti arti kata itu. Setelah memberikan pesan terakhir
sebelum beranjak meninggalkan Biebi, akhirnya mama benar-benar hilang dari
dapur.
“Ckckckck,
Mama, Mama. Ada-ada ajah” Biebi bangkit dari duduk dan hendak mematikan kompor
karena airnya sudah mendidih, tapi dia menghentikan niatnya saat merasa ada
getaran di kantong celana yang dikenakannya. Smartphonenya bergetar karena ada panggilan masuk.
My
Grandma_ calling...
Itu
yang tertera di layar benda hitam genggaman Biebi.
“Nenek?
Kok tumben nelpon jam segini, yah?” batin Biebi sebelum langsung menjawab
panggilan itu.
“Wa’alaikumsalam,
kenapa, Nek?” jawab Biebi setelah suara neneknya terdengar.
“Bie,
Pres.dir Hachiouji baru saja memberitahukanku sesuatu”
“Pres.dir Hachiouji? Kebetulan
sekali, panjang umur nieh orang”
“Memangnya
memberitahu Nenek tentang apa?”
“Memberitahukanku
bahwa sekarang Narumi ada di Indonesia”
“HAH!!!?”
***
#Ceker
setan = ceker ayam yang disajikan dengan kuah extra pedas dan potongan tahu.
Ini yang saya tahu di daerah Balikpapan. :D
BY : MENTARI ARDINI
To
be continued~
By : Rie Chan

Balikpapan