Hit counter

  • Ketika persahabatan tinggallah kata

    4

    Hasil gambar untuk animasi perpisahan
    Keheningan dan ketenangan di sekitarnya selalu menarik perhatianku, wajahnya yang lembut selalu ku lihat dari balik jendela kaca di perpustakaan ini. Dia sedang sendiri lagi di sana, duduk di bangku yang berada di bawah naungan rimbunnya daun pohon tanaman penghias sekolah, tempat yang sepi dan nyaman untuk menyendiri. Aku hanya mengetahui nama dan kelasnya, sedangkan dia tak mengetahui apapun tentang diriku. sejak pertama kali aku masuk ke sekolah ini 4 bulan yang lalu dan melihatnya, dia telah merebut hatiku.
    “ baca buku lagi ya Ri?” sapaan yang tiba-tiba itu mengagetkanku.
    “hah?em..iya nih Nul, seperti biasa..” kataku dengan sedikit gelagapan menjawab pertanyaan Husnul. Buku yang sedang ku pegang hampir terlepas dari genggaman.
    “yah,seperti biasa. Membaca di samping jendela di pojok perpustakaan. Aku penasaran, kenapa kau selalu memilih tempat ini sih?apa ada alasan khusus?” Husnul melihatku dengan tatapan menyelidik.
    “hm..aku memilih tempat ini karena di sini lebih ‘srek’ aja buat membaca Nul..” Cuma itu alasan yang masuk akal muncul di otakku.
    “o ya?!baiklah..betul juga sih, di sini memang lebih tenang. Bisa lebih konsentrasi . ya udah yuk ke kantin. paduan suara nih perutku.” Husnul menepuk-nepuk perutnya tak perduli murid-murid lain yang berada di sini menatapnya heran.
    “baiklah..tunggu sebentar, aku mau meminjam buku ini dulu.” Aku tersenyum melihat tingkah Husnul, dia tak berubah sejak aku mengenalnya 3 tahun lalu di SMP, hingga sekarang kita sama-sama duduk di kelas 1 SMA. Aku sangat menyayanginya, dia sahabat baikku.
    “baiklah,ayo cepetan” Husnul dan aku berdiri, dia sekarang sudah berjalan menjauh di depanku, sebelum benar-benar pergi, aku sempatkan untuk melihat keluar jendela lagi.
    “kapan aku bisa berbicara denganmu Cody?” bisik ku, yang kemudian hilang ditelan keheningan perpustakaan.
         
    Aku terpojok, tanganku mendadak menjadi dingin, ternyata seperti ini perasaan orang yang menjadi tertuduh dalam suatu kasus.
    “kau menguntitku yah?!” Cody bertanya dengan sedikit berteriak di depan wajahku. Darah menetes dari pergelangan tangannya.
    “aku tidak seburuk itu! Aku hanya ingin menolongmu” aku hampir menangis sekarang, selain karena takut melihat dia marah aku juga keberatan di anggap sebagai penguntit. Wajahnya sekarang benar-benar berbeda, tak ada kelembutan yang selalu memikatku disana.
    “ok, kau bilang ingin menolongku bukan? tapi, mengapa kau bisa tiba-tiba muncul seperti ini?” Cody menatapku tajam. Kata-katanya memang beralasan, karena di sekolah saat ini hanya tinggal kami berdua saja.
    “aku..aku..” oh tuhan, kenapa suaraku tak bisa keluar sekarang, di saat seperti ini.
    “hei! Kau tak bisa menjawab kan. Ku ingatkan kau, jangan jadi cewe pengganggu, jangan menguntitku! Ingat itu!” Setelah memaki ku,Cody berlalu pergi. Kini tinggalah aku sendiri menanggis dan menyesal, yah…aku sangat menyesal karena tak bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada Cody. Padahal ini pertama kalinya aku berbicara dengannya.
         
    “sekarang aku harus bagaimana Nul?” aku menelungkupkan wajahku ke meja kantin, siang ini aku telah menceritakan semuanya kepada Husnul, tentang kejadian kemarin, tentang perpustakaan dan tentu saja tentang perasaanku pada Cody.
    “jadi dia memaki kamu Ri?! Astaga, ga tau diri banget dia! Sebelum tau kejadian yang sebenarnya dia langsung ambil kesimpulan jelek kaya gitu.” Husnul berkata dengan berapi-api.
    “yah, salah ku juga sih Nul, aku gugup banget waktu mau jawab pertanyaan dia” Aku menatap Husnul dan tersenyum hambar.
    “ga bisa dong Ri, sekarang juga ayo ikut aku nemuin Cody, kita jelasin yang sebenarnya ke dia.” Husnul menggandeng tanganku, Aku terdiam, karena terlalu kaget dan bingung dengan apa yang terjadi. Aku hanya mengikuti kemana langkah Husnul membawaku pergi.
         
    Cody masih menatap aku dan Husnul, mungkin dia masih kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Yah..bagaimana dia ga kaget, tiba-tiba dia didatangi oleh dua orang cewe di tempat favoritnya ini, dan yang parahnya, sesampainya kami di sini, Husnul langsung ngejelasin kejadian yang sebenarnya kemarin dengan sedikit ngebentak dan ga ngebiarin Cody menyela sekali pun.
    “jadi…kemarin itu kamu benar-benar ga nguntit aku?” akhirnya Cody bicara juga setelah terdiam cukup lama. Aku mengiyakan dengan mengangguk.
    “kenapa kamu ga bilang kalau kemarin itu kamu ga sengaja ngeliat aku jatuh dari tangga? Kamu juga kenapa ga bilang kalau kamu sengaja balik ke sekolah dan berada di sana karena buku kamu ketinggalan di kelas, bukan karena sengaja nguntit aku?” Cody menatap ku, matanya seperti mengatakan bahwa dia menyesal.
    “bagaimana dia mau ngejawab Dy?! Kamu langsung marah dan maki-maki dia, ya dia ketakutanlah.” Husnul berkata dengan sinis.
    “ok, ok, aku salah…aku minta maaf yah…” Cody mengulurkan tangannya, tangan yang kemarin mengeluarkan darah segar itu sudah terbebat perban dengan rapi. aku dengan senang hati menyambut uluran tangan itu. Aku bahagia, akhirnya aku bisa selangkah lebih dekat dengan Cody walaupun dari permulaan yang salah. Ternyata gosip yang aku dengar tentang Cody bukanlah isapan jempol belaka, Cody memang orang yang ramah dan supel.
    “oya..siapa namamu?dan kelas berapa?” tanyanya padaku yang membuat aku jadi malu.
    “aku Riri, kelas 1-A”
    “hm…ok, aku Cody dari kelas 1-E, dan Nul, maaf yah dah buat temanmu takut dan sedih karena aku.” Apa?! jadi, Cody dan Husnul saling kenal?kok aku ga tau?benar-benar mengejutkanku.
    “yah, ga papa, permintaan maafmu ku terima, tapi lain kali jangan berburuk sangka seperti itu lagi sama orang. Aku tahu apa yang kamu pikirkan waktu itu, tapi dia bukan seperti para penggemarmu di SMP yang sampai stalkerin kamu
    “em…maaf, kalian saling kenal? Sejak kapan?” aku ga bisa diam saja, ada yang harus ku ketahui. Cara mereka berbicara, dan Husnul yang menyebut ‘para penggemarmu di SMP’ itu menandakan mereka pasti saling kenal.
    “sejak SMP kelas 3 Ri, aku sudah kenal sama Cody walau kami tidak dekat, dia kan murid pindahan di sekolahku dulu. lagi pula kelas kami kan dekatan, aku kan kelas 1-D” Husnul menjawab pertanyaanku, dan di iyakan dengan anggukan Cody. Astaga, jadi selama ini Husnul mengenal Cody, sayang banget aku ga cerita tentang perasaanku lebih cepat padanya. Khusnul kan bisa menjadi mak comblang buat aku dan Cody. Gumamku dalam hati.
    “Ri, kamu kok senyum-senyum sendiri?” Cody menatap ku heran.
    “a?..ga papa kok..hehehe..” dengan tertawa tidak jelas aku mencari-cari sesuatu di angkasa untuk mengalihkan perhatian. Salah tingkah itu nama kunonya.
    “ye…dia malah ketawa, kamu lucu juga yah..” Cody tersenyum dan geleng-geleng kepala, senyuman itu adalah senyum termanis yang pernah ku lihat di hidupku.
         
    Tak terasa 3 bulan telah berlalu, dan kami bertiga pun menjadi akrab, aku bersyukur waktu itu aku dimarahi Cody, malah yang lebih gila, aku bersyukur Cody jatuh dari tangga waktu itu..astaga, benar-benar gila bukan. Kami sering jalan bareng, ke perpustakaan, ke kantin dan ngobrol serba bareng. Sekarang aku benar-benar bahagia, keinginanku buat bisa ngobrol bareng Cody bisa terjadi, bahkan lebih dari itu..Tuhan…thanks banget yah.
    “udah Ri, dari 3 bulan yang lalu aku kan sudah bilang, kamu tembak aja Cody…dia juga sepertinya suka ma kamu kok”
    “yang benar Nul?, tapi aku malu Nul, masa cewe ngomong suka ke cowo? Kan tengsin abis..” sore ini aku dan Husnul sedang duduk di tangga sekolah dan saat ini pun aku mendiskusikan tentang perasaanku ke Cody pada Husnul. Hal ini mulai jadi kebiasaan kami sejak 3 bulan yang lalu. Sejak Husnul mengetahui perasaanku pada Cody.
    “Riri, Riri..ini kan dah jaman modern, saatnya emansipasi wanita, lagi pula siapa saja berhak jatuh cinta”
    “emansipasi wanita? Hahahaha…, apa hubungannya Nul? Kamu ada-ada aja deh.” Aku tertawa kecil mendengar Husnul membawa-bawa emansipasi wanita dalam diskusi tentang perasaanku.
    “ye..kamu, malah ngetawain lagi..” Husnul memanyun kan bibirnya.
    “iya sorry, abisnya kamu lucu sih..”
    “tenang saja Ri, aku selalu dukung kamu kok.” Husnul meremas tanganku, aku seperti mendapat keberanian setiap dia melakukan itu, ku suka saat dia mendukungku, itu membuatku kuat dan berani.
         
    “Dy, sebenarnya maksud kedatangan aku ke sini sendirian aku mau ngomong penting sama kamu.” Aku membuka pembicaraan, di tempat inilah aku akan mengakui perasaanku padanya, di tempat dia sering aku perhatikan dari jauh. Husnullah yang telah membuat aku yakin untuk mengakuinya sekarang, dia benar-benar mendukungku tadi pagi. Dan sekarang aku tak akan mengecewakan dia lagi dengan ketidak beranianku.
    “oya? Ngomong aja Ri..tapi..sebelum itu aku boleh ngomong sesuatu ga Ri?” aku berpikir sebentar, ku kira tak masalah dia memulai pembicaraannya lebih dulu, karena aku masih memerlukan sedikit waktu untuk mengumpulkan keberanian. Aku tentu tak mau terbata-bata saat mengungkapkan perasaanku apalagi sampai pingsan.
    “ok..ga papa kok Dy, memangnya kamu mau ngomong apa?” aku duduk tepat di sampingnya, menunggu kata-kata keluar dari mulut manisnya yang berwarna merah muda.
    “boleh ga aku titip salam buat Husnul?” bagai di sambar petir di siang bolong aku tak percaya dengan hal yang baru saja ku dengar. Aku kaget bukan kepalang, badan ku terasa dingin, kaku. Hatiku seperti di belenggu kawat berduri. ‘jangan..,jangan berprasangka buruk Ri, jangan langsung ambil kesimpulan tentang sahabat baikmu’
    Husnul, Dy?” suara ku, ku buat senormal mungkin, walau air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Ku palingkan wajahku darinya.
    “iya Ri, salamkan padanya…bilang salam sayang dari ku, aku sayang banget sama dia Ri” ya tuhan..haruskah aku menerima ini sebagai kenyataan?.Cody mencintai Husnul? Apa yang harus aku lakukan?menganggap Husnul pengkhianat?tapi disini posisi Husnul tidak salah...Cody yang mencintainya bukan?
    “kamu suka sama dia sejak kapan Dy?” apa Cuma perasaanku?atau memang dunia ini tiba-tiba menjadi kecil dan sempit sehingga aku sulit bernapas disetiap perkataan yang keluar dari mulutku.
    “sejak dua minggu setelah kita diterima di sekolah ini, dan masa kamu ga tau Ri?” pertanyaan Cody ini membuatku bingung. Apa lagi yang harus aku ketahui Tuhan? Bukankah cukup aku tahu kalau cintaku yang selama ini ku pendam berakhir bertepuk sebelah tangan?
    “tau? Tau apa Dy?” aku tidak mengerti maksud pertanyaan Cody.
    “aku sama dia kan pacaran dari satu minggu yang lalu Ri.” Setelah Cody berkata seperti itu aku berlari meninggalkannya, tak ku perdulikan panggilan darinya. Tangis ku pecah, aku menangis sepuasnya di UKS setelah aku berpura-pura sakit. Aku kecewa, aku ga pernah menyangka sahabatku sendiri tega menyusuk aku dari belakang, aku lebih baik di tampar sama dia dari depan dari pada seperti ini. Husnul…teganya kau?...
    Air mata ku, mengalir semakin deras saat ku mengingat kejadian siang tadi, Cody tak mengetahui alasan yang sebenarnya mengapa aku berada di UKS, aku mendengar dia masuk kesini beberapa menit yang lalu dan menanyakan tentang aku ke murid yang bertugas menjaga UKS, dan Husnul…dia tak ku temui lagi selain tadi pagi, entah dimana dia sekarang.
    Kini tinggal aku sendiri, semua murid-murid yang lain sudah pulang dari 15 menit yang lalu. Aku sengaja meminta guru kesehatan untuk membiarkan aku di UKS sampai aku merasa lebih baik. Lorong sekolah ini menjadi sangat panjang untuk ku jalani.
    “Ri!” suara panggilan yang keluar dari mulut seseorang yang sangat ku kenal. Tak kusangka ternyata dia masih berada di sekolah. Ku hapus air mataku.
    “ya Nul, kok belum pulang?” aku berusaha tersenyum.
    “tadi ada kegiatan, loh? Kamu habis nangis Ri? Kenapa?” wajahnya terlihat bingung, ‘kenapa?ini karena kamu sahabatku sayang’
    “Nul, aku mau Tanya, dan ku ingin kamu jawab dengan jujur” susah payah aku menahan gejolak yang ada di dadaku yang menginginkan untuk menamparnya sekarang.
    “ok, tanya aja Ri..apa sih yang ga buat sahabat ku” sahabat? Masih kau pandang sajakah aku sebagai sahabatmu setelah kau khianati aku?
    “apa benar kamu pacaran sama Cody?” ku lihat kekagetan di wajahnya. Tapi tak butuh 3 detik wajah yang menampilkan ekspresi itu berubah kembali menjadi semula.
    “nggak Ri, siapa yang bilang?” ucapnya disertai senyuman manis.
    Husnul!! Jujurlah!..ku mohon..aku butuh kejujuranmu sekarang, aku sakit memikirkan alasan dan mimik wajah apa yang harus aku perlihatkan saat melihatmu, aku sakit..didada ini perih..seperti ada yang hilang..” aku menangis tersedu, ku tatap dia dengan mata yang berair.
    “Ri…maafin aku Ri..aku ga bermaksud Ri..aku...memang pacaran sama Cody..aku memang mencintai Cody...aku mencintai dia sejak kita bertiga menjadi dekat 3 bulan lalu..Ri..aku..
    “cukup! Aku bilang cukup Nul..aku ga pernah nyangka kamu bisa setega ini sama aku. Buat apa selama ini kamu mendukung aku dengan kata-kata manismu? Hah?! Buat apa kamu kasih harapan ke aku?! Rasa dikhianati olehmu lebih sakit daripada saat aku tahu kalau Cody dan kamu Pacaran!Mulai sekarang kita tak lagi menjadi sahabat!!!” aku sudah tak tahan lagi berlama-lama di sini, aku berlari pergi meninggalkan Husnul. Sakit hatiku begitu dalam padanya, dia benar-benar keterlaluan. Hatiku hancur, lebih hancur dari gelas yang jatuh dari lantai 100 sekalipun.
         
    Aku baru saja selesai membaca buku yang ada di depanku, yah seperti yang biasa aku lakukan di perpustakaan ini. sejak setahun yang lalu, aku sudah tak bersama-sama Cody dan Husnul lagi. Aku sudah mengakhiri semuanya, walau dulu Cody terus mendatangiku dan bertanya mengapa sikapku berubah, dan Husnul yang selalu meminta maaf padaku, tak pernah sekalipun aku hiraukan. Dalam hati aku sudah memaafkan Husnul memang, bahkan sejak dulu, tapi memaafkan bukan berarti melupakan. Ku melihat keluar jendela, ku dapati di sana Cody sedang duduk di bangku itu lagi, tapi sejak setahun yang lalu jugalah semua berbeda, karena sekarang dia tak sendirian, ada Husnul yang selalu menemaninya di sana.
         
    Kini persahabatan kita tinggalah kata
    Semuanya hancur berkeping-keping…
    Karena kau menikamku dari belakang dengan menghela dia dalam dekapanmu…
    ***
     
     BY : MENTARI ARDINI
  • Biarkan aku pergi

    2

    Hasil gambar untuk animasi perpisahan sahabat

    Selasa,  1 September 2009  10:00 pagi
    Matahari bersinar cerah memberikan kehangatan kepada seluruh makhluk hidup agar bersemangat memulai harinya. Tapi tidak dengan Rita, cuaca cerah, kehangatan atau apapun tak dirasakannya pagi ini, semua indra perasa miliknya seperti kehilangan kemampuannya, yang dia tahu pagi ini adalah pagi dimana puncak badai kehidupan memporak-porandakan pertahanan diri juga harapan hidup yang berusaha dia yakini. Dia disana, tepat di samping gundukan tanah baru yang masih berwarna merah itu,  Rita menangis sambil berteriak-teriak memanggil nama seseorang sedangkan dua orang manusia yang berstatus sebagai orang tua dari nama yang diteriakan dirinya berusaha sekuat tenaga untuk membawa dia pergi dari pemakaman itu.
    “Randa!!  Jangan tinggalkan aku!  Kamu bilang,  kamu cinta sama aku!  Aku gak butuh cincin ini!,  gak ada gunanya cincin ini kalau kamu gak ada..mana ada orang yang memakai cincin tunangan hanya sendirian!” histerisnya lagi sambil menggenggam kotak cincin berwarna hitam.
    Teriakan Rita menggema di setiap sudut pemakaman yang sunyi.  Membentur dinding-dinding beton yang memagari area pemakaman.
    “Sudah Ri,  kamu mesti mengikhlaskan kepergian Randa,  Randa sudah meninggal,  kamu mau panggil dia seribu kali pun dia enggak akan bangun lagi Ri…”   mama Randa memeluk Rita sambil berusaha mengangkat tubuh gadis cantik yang sedang menangis itu, dia sudah mengikhlaskan kepergian anaknya walaupun masih belum sempurna.
    Tapi,  Rita tetap tak bergeming,  ia masih tak dapat percaya pada kenyataan yang begitu menyakitkan,  yang membuat hatinya hancur.  Aku yang berdiri tak jauh dari situ,  hanya bisa terdiam,  membatu,  melihat pemandangan itu membuat hatiku miris.  Ingin rasanya aku mendekat,  memeluk Rita dengan segenap perasaanku dan berkata padanya
    ‘Hai bodoh,  dia begitu menyanyangimu,  apa dengan menangis dan tak mengikhlaskan kepergiannya seperti ini,  caramu membalas kasih sayangnya??  Kecelakaan itu sudah takdir hidupnya Rita.’
    Yah..seandainya kecelakaan itu tidak terjadi.  Pasti hari ini Randa bukannya berakhir di dalam tanah,  tapi merayakan ulang tahun Rita di panti asuhan tempat tinggal Rita selama ini.  Bersuka ria bersama anak-anak panti,  lalu di depan semua penghuni panti dan orang tuanya dia akan melamar Rita.  Yah seandainya kecelakaan itu tak terjadi…
            
    Senin,  31 Agustus 2009  08:00 malam
    “Enggak !  enggak  mungkin tante!!  Randa enggak mungkin meninggal!!  aku gak percaya tante!!”  Rita jatuh terduduk,  dengan HP masih menempel di telinganya.  Tangisnya pecah,  air matanya mengalir membasahi pipinya,  ia terisak di kamarnya.
    “Ini benar Rita..tante gak bohong.  Jenazah Randa baru saja dibawa ke kamar mayat,  Randa kecelakaan Rita…dia ditabrak lari oleh mobil.  Datanglah kemari,  ada barang titipan Randa buat kamu…kami akan memakamkan Randa setelah kamu ada disini” suara mama Randa terdengar serak dan terputus-putus,  karena dia sedang menangis.
    “aku..aku..gak ngerti tante!..aku bahkan gak mau mengerti!!aku……”
    ‘Bruukk…’
    ‘tit,  tit,  tit…’
    “halo,  halo,  Rita?  Kamu dengar?  Halo?”
    Dunia tiba-tiba gelap bagi Rita.  yah,  dia tak sadarkan diri.
            
    Senin,  31 Agustus 2009  07:45 malam
    Suara alat pendektesi detak jantung terdengar sangat mengerikan di ruangan ICU itu,  tubuh Randa terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang pasien,  ia koma.  Mama dan papanya yang berada di luar ruangan berharap-harap cemas,  menangis dan berdoa agar Randa dapat terselamatkan dari maut.
    “Ma,  bagaimana ini bisa terjadi?”  papa Randa bertanya pada istrinya,  dia memang berada di luar kota saat mendapat kabar buruk itu.
    “Mama juga gak tahu pa..mama cuma dapat telepon dari kepolisian kalau anak kita kecelakaan,  kalau dia ditabrak lari sama mobil,  kalau keadaannya parah pa!..”  mama Randa berteriak histeris.
    “Ssst..sudah ma,  ini di rumah sakit…maafin papa”  dia memeluk istrinya yang sudah down .
    “Mama shock pa,  kepolisian bilang mereka sudah berhasil menangkap pelakunya,  dan tadi salah satu polisi memberikan bungkusan kecil ke mama,  katanya di dalam bungkusan itu ada  benda yang digenggam Randa waktu kecelakaan.  Mama belum membuka bungkusan itu pa…mama takut..bungkusan itu ada di tas mama”
    “Iya ma,  sekarang mama tenang dulu ya..”  papa Randa berusaha menenangkan istrinya,  walau sebenarnya dia juga sangat sedih dan takut kalau tejadi apa-apa terhadap anaknya.
    Tiba-tiba saja seorang dokter dan dua perawat masuk ke dalam ruangan Randa,  tanpa dikomando mereka berdua langsung menyusul masuk.
    “Apa yang terjadi sama anak saya dok?”  Mama Randa bertanya was-was.
    “Maaf bu..tunggu sebentar,  kami ingin memeriksa pasien dulu..”  salah satu perawat menyingkirkan orang tua Randa menjauh dari ranjang pasien.
    Mata dari kedua orang tua Randa tak lepas dari kegiatan yang di lakukan tenaga medis itu,  juga alat pendektesi detak jantung Randa yang kelihatannya semakin lemah.  Lalu hal yang paling ditakutkan mereka pun terjadi,  alat pendektesi jantung itu berbunyi lain,  bunyi tanda kalau mereka telah kehilangan anak mereka satu-satunya.  Panjang,  nyaring,  dan menyesakkan.
    “Ini gak mungkin kan pa..?  alat pendektesi jantung itu salah,  pasti alat pendektesi jantung itu rusak,  ini gak boleh terjadi!” mama Randa benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya, anak satu-satunya kini tengah tiada, berubah menjadi tubuh yang dingin tanpa nyawa.
    “Ma..sudah ma…Randa sudah pergi ma…”  papa Randa memeluk istrinya,  hatinya menangis saat ini.
    “Dokter!  saya akan bayar berapa pun biayanya!…saya mohon,  jangan biarkan Randa mati!  Tolong dokter!”  mama Randa tiba-tiba berteriak memohon.
    “Maaf kan kami bu,  kami sudah berusaha,  Ia mengalami pendarahan serius di otaknya.  Walau pun kami berhasil menyelamatkan hidupnya,  seluruh tubuhnya akan lumpuh.  Kami turut berduka cita,  Permisi bu”  setelah berkata begitu dokter dan dua perawat itu pergi,  meninggalkan mereka berdua untuk melihat Randa terakhir kalinya. Tangis dan histeris dari kedua orang tuanya mengantarkan kepergiannya…..
            
    Senin,  31 Agustus 2009  05:30 sore
    “Mba permisi,  mau tanya nih”  Randa memanggil penjaga toko perhiasan dimana sekarang dia berada.
    “Ya mas,  ada yang bisa saya bantu?”
    “Ehm,  begini loh mba,  1 bulan yang lalu saya ada pesan cincin emas putih sepasang di sini,  minta pake nama gitu, pemesananya sih untuk besok tapi katanya hari ini cincin itu sudah datang,  jadi saya mau mengambilnya”
    “Sebentar ya mas saya cek dulu,  nama mas siapa? Dan nama di cincinnya siapa?”
    “Oh iya,  nama lengkap saya Michael Randa,  dan nama di cincin yang saya pesan,  Randa sama Rita mba”
    wanita itu langsung membolak-balikan buku pesanan,  mencari nama lengkap Randa.
    “Iya ada mas,  sudah datang,  sebentar saya ambilkan ya mas..”  setelah berkata begitu wanita itu langsung pergi mengambil cincin pesanan Randa. Tak berapa lama dia kembali dengan kotak cincin yang berwarna hitam.
    “Nah,  ini mas,  Silahkan dicek dulu..”
    “Makasih mba..”  Randa menerima cincin pesanannya,  memperhatikannya sebentar dan tersenyum senang.
    “Wah,  saya puas mba,  saya bayar pake kartu kredit yah,  nih kartunya.. oya bisa minta tolong gak mba?  Tolong tuliskan di kartu ucapan ini ‘buat Rita ku tercinta,  met ultah ke-20 yah.  Rita maukah kau menjadi pendamping hidupku?,  ku harap aku mendapat jawaban iya dari mulut manismu, dari Michael Randa mu tersayang’  boleh yah…tulisan saya jelek mba…”  Randa memasang wajah memohon di hadapan wanita itu.  wanita itu mengambil kartu kredit dan kartu ucapan yang disodorkan Randa.
    “Baiklah,  saya senang mas puas atas hasil kerja kami.  oya cincin itu spesial mas,  namanya power of love,  makanya cincin itu bermatakan berlian berbentuk hati dengan desain yang indah..pas banget buat cincin tunangan atau cincin nikah..pasti pasangan mas gembira sekali diberikan barang spesial seperti ini,  nah ini mas kartu kredit dan kartu ucapannya” kata wanita tersebut sambil menyerahkan kartu ucapan dan kartu kredut randa.
    “Karena itulah saya membeli cincin ini,  terima kasih banyak yah mba.”  Randa tersenyum.
    “Ya sama-sama,  datang lagi ya mas”
    Randa keluar dari toko tersebut,  dia menimang-nimang kotak kecil tempat cincinnya.
    ‘Rita pasti gak akan pernah melupakan ultahnya tahun ini...’  gumam Randa dalam hati.
    “Oh ya,  aku mau liat cincin ini sekali lagi ah..”
    Randa membuka kotak cincinnya,  mengeluarkan satu cincin yang ukurannya lebih kecil dan…
    “Akh,  jatuh lagi!  Mana tadi?  Astaga kok bisa menggelinding sampai sejauh itu sih?”
    Randa berjalan hendak mengambil cincin yang jatuh tadi,  cincin itu menggelinding hampir ke tengah jalan.
    “Nah untung  gak menggelinding jauh,  kalau sampai hilang bisa berabe nih”
    Randa memungut cincin itu,  memasukannya kembali ke kotaknya, dan hendak berbalik untuk pulang.  Namun tanpa disangka sebuah mobil yang berkecepatan tinggi menabraknya,  tubuhnya terhempas ke pinggir jalan dan kepalanya menghantam trotoar,  tubuh serta kepalanya mengeluarkan darah segar.  supir mobil yang menabraknya bersikap pengecut,  dia langsung kabur tak perduli terhadap keadaan Randa dan teriakan warga sekitar yang menyuruhnya berhenti.  Randa merasakan sakit yang luar biasa,  hal terakhir yang dia ingat hanya wajah Rita yang tersenyum padanya dan cincin yang dia genggam sekarang,  lalu… dunia pun kelam.
          
    Senin,  31 Agustus 2009  02:00 siang
    Di bangku yang letaknya di bawah pohon mangga di pinggir halaman panti,  Randa dan Rita sedang bercengkrama,  memang tempat itu strategis buat mengobrol.  Tempat itu sejuk,  karena rindangya daun mangga melindungi mereka dari panas matahari yang menyengat.
    Yang,  tanggal 1 september besok,  kamu ingat gak hari apa?” Rita membuka percakapan sambil memperhatikan wajah Randa.
    “Hari apa ya,  selasa kali,  kenapa memangnya?”
    “Ih,  kamu itu loh,  bukan nama harinya,  tapi memperingati hari apa tanggal 1 itu..awas kamu bilang lupa ya”  Rita ngambek,  bibirnya sengaja dia mancungkan lebih mancung dari hidungnya sendiri.
    “Iya,  iya maaf,  aku gak lupa,  itu hari ultah yayangku yang tercantik ini kan?  Masa aku melupakan hari pentingmu,  aku begitu mencintai kamu Rita..”
    “Dasar gombal,  nah kata Ibu panti hari ultah ku nanti aku boleh ngadain pesta kecil-kecilan,  kamu pokoknya harus dateng bareng om sama tante,  Yah sayang ya…”  Rita memohon sambil tersenyum,  senyum yang telah membuat Randa jatuh cinta pada dirinya.
    “Wah,  senyum satu juta wattnya keluar,  gak kuku..hehehehe,  em,  ntar ku atur deh,  pasti aku datang sama ortu ku.  Masa acara ultah calon menantu mereka,  mereka  gak datang.  Wah keterlaluan itu namanya sayang  perkataan Randa tadi membuat Rita tersipu.
    “Iya calon menantu…,  ya udah aku masih ada tugas di dalam.  kamu mau pulang atau mau bantuin aku di sini yang?”
    “Yah pasti aku mau bantuin kamu lah yang..yuk kita masuk dan menyelesaikan tugasmu..”  Randa bangkit sambil menggandeng tangan Rita,  mereka tertawa bersama.
    Tak menyadari,  kalau akan terjadi sesuatu yang memisahkan mereka. Sesuatu yang bernama takdir.
           
    Selasa,  1 September 2009  10:20 pagi
    “Waktunya sudah tiba”  suara berat itu membuyarkan lamunanku.  Aku tersentak dan memandanginya.  ‘ah,  waktuku sudah habis’  aku menggumam dalam hati.
    “Baiklah,  terima kasih atas waktu yang telah kau berikan padaku”  ucapku padanya, sosok yang sebenarnya aku tak kenali, tapi entah mengapa perasaanku seperti bertemu dengan seorang kawan lama saat menatapnya.
    “Kalian memang tak berjodoh di dunia fana ini,  tapi ketahuilah bahwa cinta yang tak mempunyai AKHIR itulah yang dinamakan cinta yang abadi kata-kata darinya barusan membuatku tersenyum. Akupun menatap Rita,  dia sudah tak sehisteris tadi.  Sekarang dia sedang dibantu berdiri oleh mama.  Sepertinya Rita sudah berhasil di bujuk untuk pulang.
    Tuhan.., ku harap cinta kami benar takkan lekang oleh waktu. Rita....selama kau hidup dan mengingatku, maka akupun akan tetap hidup dalam dirimu bukan? Jangan bersedih sayang, ikhlaskan diriku.
    Yah..Aku,  Michael Randa,  ternyata memang sangat mencintai seorang Marita Anjani.  Sangat ku sadari itu sekarang,
    Lalu seiring dengan hilangnya aku,  ku titipkan kata pada angin untukmu Rita.
    “Selamat tinggal…”
     ***
     BY : MENTARI ARDINI
  • SIFAT ORANG BERDASARKAN GOLONGAN DARAH

    0
    dibawah ini adalah sifat-sifat orang berdasarkan golongan
    berdasarkan golongan darah yang dimiliki. Untuk menjelaskan itu kami cukup postingkan gambar-gamar berikut ini :
    Sifat Orang Berdasarkan Golongan Darah
    Sifat Orang Berdasarkan Golongan Darah
    Sifat Orang Berdasarkan Golongan Darah
    Sifat Orang Berdasarkan Golongan Darah
    Sifat Orang Berdasarkan Golongan Darah
    Sifat Orang Berdasarkan Golongan Darah
    Sifat Orang Berdasarkan Golongan Darah

    Sifat Orang Berdasarkan Golongan Darah
    Kalau Kamu golongan darahnya Apa? ngerasa ga mirip yang di atas?

    sumber: yahanli.wordpress.com
  • SIFAT COWOK DAN CEWEK SESUAI ZODIAKNYA

    0


    Nah,mari kita sama-sama mengecek sifat seseorang melalui zodiaknya..
    apakah benar seperti sifat kalian atau malah sebaliknya yaitu bertolak belakang?
    siaap...
    ini dia...

    Pria SCORPIO
    Setia, cowok yang ramah, murah hati dan tipe cowok romantis tapi agak pemalas

    Pria PISCES
    Memiliki banyak ide, unik,rajin dan cerdas, tidak suka basa basi dan pandai membujuk

    Pria LEO
    Murah hati, banyak akal, berjiwa besar, supel, berkepribadian menarik dan suka bercanda

    Pria VIRGO
    Sangat menghargai waktu,tenang,berwibawa,suka berterus terang dan tipe pria setia

    Pria GEMINI
    Mau mengalah,suka kehidupan yang mewah,tidak tegaan,kreatif dan dermawan

    Pria SAGITARIUS
    Seorang cowok yang menyukai kehidupan social,uptodate,suka bekerja keras dan setia

    Pria CANCER
    Bertanggung jawab,baik hati,tidak tegaan tapi paling sensitif & lemah secara emosi

    Pria LIBRA
    Ia adalah cowok yang ramah dan selalu tersenyum,berani dalam mengambil keputusan dan selalu optimis

    Pria TAURUS
    Cowok sederhana,suka melakukan kejutan,murah hati dan tipe orang yang romantis

    Pria ARIES: Selalu berpikiran positif dan optimis,mempunyai semangat yg besar jika sudah menetapkan tujuan

    Pria CAPRICON
    memiliki tatapan mata yang tajam yang menarik,bersikap tenang,ramah & pandai bergaul

    Pria AQUARIUS
    Berhati-hati dalam mengambil keputusan,pandai berbicara, dan tidak mudah putus asa

    Cewek PISCES
    Harmonis,mau mengalah,pendiriannya teguh dan romantis dalam hubungan

    Cewek AQUARIUS
    Harmonis,pandai bergaul,seru dan lebih suka punya cowok yang jujur

    Cewek CAPRICORN
    romantis,cantik luar dan dalam,biasanya sosok yg manis dan pengertian

    Cewek SAGITTARIUS
    adalah cewek yang penuh tawa dalam hubungan & suka petualangan bersama pacarnya

    Cewek SCORPIO
    Suka mengalah,pintar bergaul,murah hati & punya pesona tersendiri untuk menarik pasangan

    Cewek LIBRA: sangat jujur,romantis dalam menjalin hubungan dan selalu mencoba membuat hubungan nyaman

    Cewek VIRGO
    Suka bercanda,mudah beradaptasi, praktis dan jujur dalam hubungan

    Cewek LEO
    cerdas, berani ,bertanggung jawab dan sangat menarik di mata cowok (pada umumnya)

    Cewek CANCER
    sangat menghargai kejujuran,optimis dan pada umumnya gampang berubah mood

    Cewek GEMINI
    tidak mudah bosan dalam berpasangan,pantang menyerah dan kreatif

    Cewek TAURUS
    butuh keromantisan dalam hubungannya, Sensasional dan Sexy luar dan dalam

    Cewek ARIES
    biasanya memimpin suatu hubungan, dia bisa membuat si cowok mengejar dia, dan sangat setia

    Advertisement
  • Copyright © - Chibi 'RIE' Mikiko Chan

    Chibi 'RIE' Mikiko Chan - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan