Hit counter
Love is Life (and) Life is Tears in Heaven
3
Langit telah berubah menjadi sewarna timah. Hujan deras jatuh ke jalanan
bata semen yang tertutup kerikil halus, menekan turun debu beraroma tajam yang
diterbangkan kendaraan yang lewat.
Seorang wanita berbaju biru yang serasi dengan jilbab yang dikenakannya
sedang memperhatikan orang yang berlalu lalang di jalanan dari jendela lantai
dua rumahnya. Sesekali wanita itu menarik napas berat, wajahnya melukiskan
bahwa ada sesuatu hal yang mengganjal pikirannya. Dia menghentikan aktivitas
memperhatikan orang-orang di bawah sana dan memutar tubuh untuk melihat
sekelilingnya. Ruangan tempat dia berada sekarang adalah kamar tidurnya
sendiri, kamar tidur yang tak bisa dikatakan biasa saja dengan ukuran dan
isinya.
Kamar tidur itu bercat kuning gading dan berlantaikan keramik putih
susu, dengan hiasan wallstiker burung-burung
kecil di sekitar tempat tidur King size yang
bersepraikan motif Teddy bear coklat.
Di dalam kamar tidur itu terdapat lemari 4 pintu, meja hias, meja belajar
dengan rak buku, 2 bangku dan 1 meja kecil, serta TV berukuran 34 inchi dan
barang elektronik lainnya.
Dia berdecak, kakinya melangkah ke arah meja belajar tempat smartphone-nya tergeletak. Tak butuh
waktu lama untuk menemukan nama seseorang yang dicarinya, sebelum menyentuh
layar yang bertuliskan Dial disempatkannya
untuk menarik napas panjang.
20 detik berlalu, panggilan itu terjawab di seberang sana.
"Hallo, ada apa nih? Tumben banget nelpon aku," Suara manja yang rendah dan serak menyapanya.
"Emh, hallo, maaf kalau tiba-tiba aku nelpon kamu. Aku mau minta
tolong, emh, kamu ngga sibuk kan sekarang?,"
"Ah, gak apa-apa, Pasti aku tolong deh, aku malah ngga ada kerjaan
di rumah. Ayolah, kayak ngga tau aku saja."
Wanita itu diam sejenak, lalu menjawab
"Baiklah, tolong jemput aku yah, aku butuh teman untuk ke acara
reunian SMA hari ini, kamu pakai baju semi-formal, 1 jam lagi kamu harus ada di
sini."
"Wow!, aku jadi patner yah?! Astaga, baiklah kalau begitu. Tunggu
aku 1 jam lagi, jangan lupa dandan yang manis yah, hehehe"
"Hufthh, kau ini. Ya sudah kalau begitu, bye-bye"
"Yups, bye-bye Onee-chan."
"Eeh??!, Wong, tung─"
Sambungan telepon terputus, gadis itu menatap smartphonenya dengan tatapan horor.
"Aish, Laki-laki inii." Di lemparkannya benda berwarna hitam
itu ke atas tempat tidur dengan kesal.
Kembali dia mendekati jendela kamarnya yang beberapa menit lalu dia
tinggalkan, ditatapnya keadaan di luar sana yang masih setia dengan cuacanya yang buruk, seperti suasana
hatinya saat ini. Tak disadarinya ada seseorang yang memandanginya, di balik
payung hitam tepat di pinggir jalan.
***
Suasana tampak ramai di dalam restoran yang memang sudah dibooking untuk menjadi tempat diadakannya
reunian SMA tempatnya dulu belajar. Diperhatikannya sekilas beberapa orang yang
diperkirakannya bisa diajak bercengkrama, setelah quick scan ada 5 orang yang benar-benar masuk dalam 'daftar'nya.
"Ayo kita masuk," ucap laki-laki yang berada di sampingnya.
"Ya...."
Pintu kaca restoran itupun dibuka, dengan seketika semua mata menatap ke
arah mereka berdua. Dua anak manusia yang memang pantas untuk diperhatikan,
yang laki-laki putih, tinggi, bersih dan berwajah manis yang bisa bikin iri
para wanita, apalagi dengan rambut berwarna hitam yang sedikit lebih panjang
hingga tengkuk, lagipula sekali lihat orang lain juga tahu kalau dia blasteran,
sedangkan yang wanita tinggi, berkulit kuning langsat khas orang jawa, dan
memancarkan aura kecantikan dan keseksian yang luar biasa walau dia menggunakan
jilbab.
Semakin mereka berdua mendekat ke arah salah satu meja
yang ramai, maka akan terdengar semakin jelas bisikan-bisikan yang seakan
memenuhi ruangan.
"Itu dia kan? Ternyata makin cantik saja."
"Tak ada yang berubah darinya yah, tetap cantik,
anggun, dan tak terjangkau"
"Coba lihat laki-laki di sampingnya itu, itu
pasangannya? benar-benar serasi yah."
"Ih, dasar tukang pamer. Pasti itu tetangganya
yang dipaksa buat nemanin dia."
"Nona Direktur seperti dia, memang bisa melakukan
apa saja. Sekarang dia terkenal akan keberhasilannya."
"Heh!, Direktur seperti dia apa yang bisa
dibanggain?, pengangkatannya saja penuh isu dan konflik"
Bisikan-bisikan yang semakin jelas itu mengganggu
telingannya, ibaratkan kumpulan gurita kecil yang dijejalkan masuk ke dalam telingannya.
Geli, dan juga sakit.
"Hei, apa kabar?" Tiba-tiba sebuah sapaan
seperti membongkar habis kumpulan gurita itu. Sapaan itu juga meredakan bisikan yang mengganggu.
Situasi tiba-tiba terkendali.
"Kabarku baik, kamu sendiri bagaimana? Umh,
Fio?" Jawabnya dengan sedikit ragu karena lupa-lupa ingat siapa wanita
manis yang sedang tersenyum di hadapannya sekarang.
"Wah, aku ngga nyangka kamu masih ingat sama
aku."
Wanita yang bernama Fio, atau tepatnya Fiorina Mu itu
teman sebangkunya 5 tahun lalu. Seseorang yang benar-benar tidak
akan masuk dalam ‘daftar’ teman bercengkrama yang baik untuknya. Saatnya untuk
bersiap.
"Ah, begitu yah. Aku yang malah ngga nyangka
kalau kamu masih ingat sama aku."
"Eh?!, itu ngga mungkin. Siapa yang gak akan
ingat kamu?,
most wantednya SMA Melati 36, dan
ditambah lagi 3 bulan lalu kamu diangkat menjadi Direktur Hotel Goddess. Nama dan fotomu ada di hampir semua majalah dan surat kabar, Biebi"
Ketika Fio mengungkapkan kejadian 3 bulan lalu, wajah
Biebi menjadi kaku. Dia tahu kalau hal ini pasti akan diungkit oleh salah satu
temannya di acara reunian ini secara terang-terangan, tapi dia tidak menyangka
akan secepat ini. Senyuman di wajah Fio membuat Biebi
ingin melepas imajinya sebagai gadis Jawa santun dan segera membuat senyuman
itu luntur.
"Ehem" deheman kecil itu menyadarkan Biebi
yang sempat telarut perasaan, laki-laki yang sedang bersamanya memberikan
tatapan aneh, dengan cepat dia melakukan hal yang seharusnya sudah dilakukan
sejak awal.
"Ah, Fio, perkenalkan ini Wowong
dan dia adalah─"
"Aku Otoutonya Biebi-nee chan" sambar
laki-laki yang bernama aneh(?) Itu.
Sontak mata Fio membulat sempurna mendengar pernyataan
Wowong. Fio yang seorang tour guide
kurang lebih mengerti beberapa bahasa asing, termasuk bahasa Jepang.
"ADIK?!!" Ucap Fio setengah berteriak tak
percaya. Beberapa orang yang mendengar ucapan Fio pun ikut heboh, karena
seorang Biebi itu anak tunggal, pengakuan seseorang sebagai adiknya tentu saja
menimbulkan tanda tanya dan berita besar. Apalagi dengan posisi Biebi sebagai
Direktur terkenal saat ini.
"E-eh?! Bukan, bukan. Dia bukan ADIKku!" Biebi berusaha
mengkonfirmasi info itu.
"Nee-chan,
jangan begitu dong. Aku sakit hati nih" Wowong memasang wajah memelas yang
bisa bikin hati siapa saja klepek-klepek.
"Jadi dia beneran adikmu?"
"Adik tiri?"
"Berita besar ini disembunyikan berapa
lama?"
Pertanyaan-pertanyaan terus mendesak Biebi dari
teman-temannya yang langsung mengelilinginya.
"Bagus,
daftar quick scanku hancur berantakan dan aku harus mengkonfirmasi berita ini─lagi"
ucap Biebi dalam
hati sambil melihat Wowong yang senyam-senyum kepadanya. Dia kesal, tapi juga
senang. Karena dengan begitu, Fio tidak akan menanyakan hal yang mengungkit
peristiwa 3 bulan lalu.
***
Biebi memutar-mutar polpen di atas meja kerjanya.
Tatapan matanya kosong dan pikirannya menerawang. Siang ini dia baru
mendapatkan kabar dari mamanya kalau nenek dari pihak papanya ingin
membicarakan hal penting nanti malam di rumah mereka. Bukannya Biebi tidak suka
akan kedatangan neneknya tersebut, hanya saja neneknya inilah yang menyebabkan
dia tiba-tiba harus menanggung beban seorang Direktur Hotel Goddess Group.
"Haaah" dia menghela napas berat, sejak
menjadi Direktur seakan ini hobi barunya.
Biebi teringat akan kejadian 3 bulan lalu itu, waktu
itu papanya sedang tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Penyakit bernama
Stroke menimpa papanya secara tiba-tiba saat sedang melakukan rapat umum
pemegang saham satu minggu sebelumnya. Biebi tahu, saat itu Hotel Goddess sedang mengalami krisis dan papanya selaku Direktur Hotel Goddess─saat itu Biebi adalah Manejernya─pasti menanggung
beban pikiran yang berat. Neneknya yang merupakan Presiden Goddess Group melakukan tindakan yang luar biasa
mencengangkan buat Biebi, keluarga serta perusahaan, beliau mengangkat Biebi
sebagai Direktur saat itu juga. Menurut neneknya posisi Direktur tak boleh
kosong terlalu lama, dan satu-satunya pengganti yang cocok untuk posisi itu
adalah Biebi─cucu tertuanya sendiri. Tentu saja Biebi menolak, baginya
pengangkatan tiba-tiba itu seperti menghina papanya. Dan juga Biebi tak pernah
tertarik untuk menempati posisi itu secara mudah. Kalau pun dia akan menjadi
Direktur disuatu hari nanti, dia ingin itu karena hasil kerja kerasnya, bukan
pengangkatan tiba-tiba seperti itu. Tapi Neneknya tak akan menjadi Presiden
Goddess Group kalau bisa ditolak semudah itu, sikap keras kepala
dan juga pantang menyerahnya tak mau menerima alasan apapun atau keputusannya
ditolak oleh siapapun. Bahkan neneknya memberikan pilihan sulit untuknya waktu
itu, di antara menerima dan menjalankan posisi Direktur atau dinikahkan dengan anak dari bos salah
satu perusahaan kecil yang memang ingin menjadi bagian Goddes Group lalu
mengangkat suaminya itu sebagai Direktur baru. Bayangkan?! Pernikahan?! Bahkan
neneknya berkata pernikahan itu bisa langsung dilaksanakan keesokan paginya
jika Biebi benar-benar menolak keputusan neneknya tersebut. Biebi bukan wanita
bodoh, dia berpikir jika dia menikah dengan laki-laki yang tak dikenalnya dan
tentu saja akan disepakati secara langsung oleh pihak laki-laki karena
keuntungan perusahaan mereka itu dipilihnya, akan jadi apa kehidupannya ke
depan? Goddess
group?. Mau tak mau akhirnya dia memilih menerima keputusan neneknya setelah
diberi waktu berpikir hanya 5 jam waktu itu. Banyak yang senang akan
pengangkatannya sebagai Direktur baru, tapi bukan berarti sedikit yang akan
membencinya. Beberapa pemegang saham ada yang meragukannya, beberapa pegawai
ada yang mencibirnya, yang terparah sehingga menjadi konflik cukup besar untuk
diberitakan oleh media massa dalam pengankatannya yang tiba-tiba adalah ketika
paman satu-satunya dari pihak papanya menyerangnya di kantor karena tidak
menyetujui keputusan neneknya. Atas penyerangan itu, Biebi menderita luka lebam
di pipi dan beberapa di lengannya, syukurlah bisa sembuh dengan cepat. Dan
pamannya menjadi buronan pihak berwajib entah sampai kapan. Tapi, saat ini, dia
adalah Direktur terkenal akan hal lain. Karena dalam waktu 3 bulan setelah
pengankatan tiba-tiba dirinya sebagai Direktur, krisis yang menimpa Goddess Group hampir sepenuhnya teratasi. IQ-nya yang jenius serta kecakapannya dalam manajerial,
Biebi seperti seseorang yang terlahir memang untuk berbisnis. Sungguh, luar
biasa.
"Haaaah" kali inii Biebi menghela napasnya
dengan lebih berat dan keras. Polpennya yang terjatuh ke lantai menyentak pikirannya
kembali dari lamunannya.
Tak lama kemudian pintu ruangannya diketuk perlahan, lalu terbuka dan menampilkan
sosok laki-laki berkacamata yang membawa beberapa map berkas.
"Permisi Bu, ini berkas-berkas yang Ibu
minta" katanya seraya menaruh berkas-berkas tersebut di meja Biebi.
Biebi menatap wajah laki-laki itu lekat. Membuat yang
ditatap jadi salah tingkah mengartikan tatapan Bosnya itu padanya. Anan
merupakan sekretaris Biebi sejak menjadi Menejer sehingga diangkatnya menjadi sekretarisnya juga
saat menjadi Direktur, dia tak mau mengganti orang atas alasan kenyamanan dan
kepercayaan. Umur
Anan sekitar 23 tahun, berbeda 1 tahun lebih muda darinya. Berkulit seperti
tembaga, berbadan atletis dan memiliki senyuman manis yang pasti diakui semua
orang. Memandangi Anan dengan lekat mengingatkannya akan seseorang.
"Bu, apa ada hal lain yang Ibu inginkan?"
Tanyanya setelah jengah dipandangi dalam diam. Seandainya Biebi bisa membaca
pikiran seseorang, tentu Biebi akan tahu kalau dia baru saja memikirkan hal tak
pantas tentang bibir lebar yang sensual dan berwarna pink miliknya.
"Anan, kau bisa
memberikan pendapat pribadi padaku kan?" Tanya Biebi yang dijawab
dengan anggukan ragu dari laki-laki itu. Biebi berdehem kecil. 'Malah mungkin terlalu pribadi',
pikirnya ulang.
"Menurutmu, apa yang harus dilakukan seseorang
ketika ada orang lain yang..., yang menyebalkan mengusiknya?"
"Mengusik?"
"Yah, misalnya kamu membenci kucing, tapi ada
seekor kucing mucil yang terus mendatangimu, walau kamu membencinya, kamu juga
tidak tega untuk menyingkirkannya. Karena kalau kucing itu pergi kamu merasa
ada sesuatu yang kurang."
"Berarti dia mengusik pikiran dan juga
mengusik...hati?" Lanjut Anan dengan pelafalan 'hati' yang perlahan. Wajah
Biebi merona. Melihat reaksi Biebi, Anan langsung tahu apa jawaban sebenarnya
dari pertanyaan itu.
"Yah, bisa dibilang begitu. Bagaimana? Apa yang
harus seseorang itu lakukan?"
Anan tak langsung menjawab, dia tersenyum tipis dan
membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk kanannya.
"Jangan melakukan apapun, lihat keadaan dengan
baik dan benar, jangan cepat mengambil kesimpulan, waspada kalau itu kesalah
pahaman semata,"
Biebi bingung mendengar ucapan Anan, otak jeniusnya
pun tak mampu menangkap maksud sebenarnya dari ucapan Anan.
Melihat kerutan di kening Biebi, Anan tersenyum lebar.
Dia tahu Biebi berpikir keras, dalam hal yang menyangkut hati, perasaan. Biebi
bukan ahlinya.
"Bu, saya rasa saya permisi dulu, ada banyak
pekerjaan yang belum saya selesaikan" pamit Anan disetujui anggukan Biebi.
Setelah Anan pergi, Biebi mengambil smartphone di dalam tas Prada hitam
miliknya. Membuka daftar sms masuk dan membaca pesan yang dia terima tadi pagi.
From
: wowong_aneh
Paagiii,
Biebi-nee chan :) ,,
Onee-chan,
jangan lupa sarapan. Oya, nanti pulang kerja aku jemput boleh?. Kemarin maaf
yah atas keributan di restorannya, hahahaha. Onee-chan, ganbatte (҂'̀⌣'́)9 !!
"Nah, perasaan terusik ini muncul lagi.
Aakh!"
Biebi meletakkan smartphonenya
di atas meja dengan kasar.
***
Ruang
makan di rumah Biebi sangat lebar dan bersih. Biebi, Nenek, Mama dan Papanya, sudah
mengelilingi meja besar dengan beraneka makanan yang sudah tersaji apik di
atasnya.
“Silahkan!
Silahkan!” Mama menyilakan dengan antusias.
“Makanannya
terlihat sangat enak, pasti bukan kau
yang memasaknya, kan?” tanya Neneknya sambil melirik cepat ke arah Mamanya.
Biebi mulai merasakan hawa panas menguar dari dua orang wanita yang saling
tersenyum itu.
“Aku
yang masak, Bu.” Jawab mama santai tapi dengan penekanan disetiap kata-katanya.
“Jangan-jangan
ditaruh racun lagi!” ceplos Neneknya pelan.
“Nenek,
Mama tidak mungkin seperti itu. Masakan Mama selalu enak kok.” bela Biebi
sebelum Mamanya menjawab sindiran pedas dari Neneknya tadi. Terlambat sedikit
saja, akan ada perang dunia ke 3 terjadi.
“Kalau
kau bilang begitu, Nenek percaya.”
Nah,
ini dia hal lain yang membuat Biebi menjadi kurang enak hati jika Neneknya
berkunjung. Nenek dan Mamanya dari pertama memang kurang akrab, mungkin karena
Papa yang menjadi bujangan impian semua gadis malah menikahi Mama yang hanya
seorang wanita biasa dari golongan tak berada. Tapi syukurlah Papa tak dipaksa
menikah dengan orang lain saat itu, yah alasan tepat Nenek tak melakukannya
karena Papa anaknya yang tepat untuk memimpin Goddess Group menuju kegemilangan
dibandingkan Pamannya yang tamak itu.
“Biebi,
kau tahu apa alasan Nenek kali ini datang ke-..., ke...”
“Ke
rumah
ini, rumah kami” lanjut Biebi dengan memutar bola matanya. Lagi. Neneknya
selalu begini. Tidak pernah mau menyebut atau mengakui rumah yang pasti menurut
siapa pun bahkan cukup besar dan mewah ini sebagai rumah keluarganya. Alasannya
di balik hal itu hanya karena Mama yang memilih tinggal di rumah ini, tinggal
di daerah pinggir kota dan bukannya menuruti perkataan Nenek untuk tinggal di
kompleks perumahan mewah yang sudah Nenek persiapkan untuk mereka─Papanya
tepatnya.
“Yah...,
Nenek ingin memberitahumu kalau 1 bulan lalu kau telah dijodohkan.”
Hening...
3
detik...
6
detik...
“APA?!!!!”
Biebi dan Mamanya berteriak bersamaan, sedangkan Papanya bergerak gelisah
menunjukkan kekagetan yang sama.
“Oh
Tuhan..., ada apa dengan kalian berdua? Apa kalian tidak ingat bagaimana etika
dimeja makan?” Neneknya menggosok kedua telinganya yang berdenging.
“Tapi
Nek, bukankah kita sudah membahas masalah ini sejak 3 bulan lalu? waktu itu
Nenek menggunakan ancaman ‘pernikahan’ agar aku menggantikan posisi Papa. Aku
terima keputusan Nenek dan menegaskan aku tidak akan menikah dengan cara zaman
batu begitu. Sekarang apa ada masalah lain lagi, sehingga Nenek mengabarkan
berita yang bikin aku spot jantung seperti ini?” Biebi berkata dengan
berapi-api. Dia berpikir apa lagi yang harus dia hadapi sekarang. Kenapa
Neneknya ini seperti Mak Comblang yang keaktifannya sangat mengancam?.
“Biebi
benar Bu!, Ibu jangan memberi kabar yang bisa bikin kami jadi mati mendadak.”
“Sudahlah,
kalian berdua diam dan dengarkan. Biebi, kamu tahukan kita akan membuka cabang
di Singapura? Nah, untuk masuk dengan mulus dalam perbisnisan di Singapura kita
harus bekerja sama dengan New Moon Group yang hampir menguasai seluruh
perbisnisan di sana. Pres.dir Hachiouji memiliki putra yang belum menikah, dan
kami berdua sudah sepakat untuk menjodohkan kau dengan anaknya saat pertemuan
bisnis 1 bulan lalu.” Neneknya mengakhiri penjelasan santai itu dengan
menyeruput teh hangat yang tersedia, sedangkan Biebi dan mamanya hanya menatap
tak percaya pada beliau.
Tiba-tiba
Mamanya berdiri dan menggelengkan kepala kuat-kuat, seakan mengerti ide gila
apa yang sedang berkeliaran di kepala mertuanya.
“Ibu...,
jangan bilang kalau kau─”
“Tunggu
sebentar!” potong Biebi secepat kilat.
“Jadi
aku benar-benar sudah dijodohkan tanpa persetujuanku terlebih dahulu dan hari
ini aku baru diberitahu akan hal itu?. Ini pernikahan bisnis? Apa anak Pres.dir
itu setuju dengan semua ini? Kenapa Pres.dir itu mau-mau saja menerima ide
menjodohkan kami?” Biebi merasa sekelilingnya berputar-putar, dia mencoba untuk
mencerna semua berita yang masuk ke dalam otaknya dengan cepat dan tepat.
Masalah ini benar-benar harus jelas. Ini serius, karena ada kejanggalan dalam
perjodohan ini.
Neneknya
menatap Biebi dengan tatapan yang sulit diartikan, hal itu mampu membuat Biebi
berpikir harapan kecil di hatinya mempunyai jalan. Semoga saja anak Pres.dir
itu menolak perjodohan ini, semoga.
“Ehm,
yah..., bisa dibilang tidak semulus yang Nenek dan Pres.dir Hachiouji
pikirkan..., Putranya sudah diberitahukan masalah ini tepat 2 minggu sesudah kesepakatan
itu kami buat. Dan sang Kakak itu menolak perjodohan ini”
Pucuk
dicinta ulam pun tiba!!!, Biebi serasa ingin melompat-lompat saat ini juga,
ternyata anak Pres.dir itu tak sebodoh yang Biebi pikir untuk menerima
perjodohan ini. Biebi tersenyum cerah, dipandanginya Mamanya yang juga terlihat
gembira.
“Berarti
semua sia-sia kan Nek, aku tahu kalau hanya aku yang tak setuju, perjodohan ini
bisa tetap nenek paksakan demi Perusahaan kita, tapi... kalau anak Pres.dir itu
juga tak setuju, tentu saja perjodohan ini sudah tak memiliki jalan” kata Biebi
seakan dia seorang Peramal yang berhasil menebak apa yang Neneknya rencanakan,
tentu saja Neneknya tidak akan ragu untuk menggunakan ancaman-ancaman yang
mengerikan untuk membuat Biebi menerima perjodohan itu, karena Neneknya
bukanlah orang yang suka ditolak.
Tapi,
tiba-tiba tangan neneknya menggenggamnya perlahan. Biebi kaget mendapati
Neneknya tersenyum, senyum yang sering Biebi lihat di saat-saat tertentu.
Seketika Biebi merasa sensasi dingin merayapi punggungnya, senyum itu, senyum
yang Neneknya tunjukan disaat mendapatkan apa yang dia inginkan, disaat menipu
musuh atau rekan bisnis yang mengira merekalah yang menang.
“Tapi...,
apa aku lupa menjelaskan tentang detail sesuatu?. Ah, yah..., aku salah
kalau hanya mengatakan Putra
Pres.dir Hachiouji, seharusnya dua orang
Putra, dan apa kau tak menyimak
dengan baik? Aku mengatakan sang Kakak
menolak perjodohan ini....”
Dor!!!
Biebi merasa tersentak jatuh ke lubang besar dan dalam. Neneknya tak melanjutkan
kata-katanya, dia menatap Biebi, menunggu lanjutan kata-kata itu keluar
langsung dari bibir Biebi yang mendadak gemetar.
“Ber-berarti
sang Adik menerimanya.”
***
to be continued...
BY : MENTARI ARDINI
By : Rie Chan
Pelangi Hatiku
4
Senja mulai merangkak naik, suasana yang damai
di alam saat ini,tak berlaku di rumah mungilku, aku sedang berdebat dengan ibu.
“pokoknya
aku mau ngekos! Aku mau mandiri…lagipula kampus dengan rumah kita kan jaraknya
cukup jauh..masalah makan atau keperluan lain aku bisa usaha bu!” kataku
berusaha meyakinkan ibuku.
“tapi
Mika..ibu kan sudah tua, kamu anak ibu satu-satunya, Cuma kamu yang ibu miliki
sejak ayahmu meninggal 8 tahun lalu..apa kamu tega meninggalkan ibu sendirian?”
ibu menatap wajahku, ku lihat matanya yang berkaca-kaca. Tapi, itu sama sekali
tak mengubah keinginanku.
“memang
iya sih bu, tapi aku kan sudah besar, umurku sudah 19 tahun, aku berhak untuk
nentuin jalan hidupku. Dan ngekos saat aku sudah kuliah, sudah ku rencanakan
dari aku kelas 2 SMA. Aku sudah dapat tempat kos yang bagus kok, dekat dengan
kampus dan harga sewanya juga murah” Aku mulai bosan untuk terus-menerus
meyakinkan ibu. Sudah 1 jam lebih kami berdiskusi tenang keinginanku ini, tapi
ibu belum juga mengizinkan.
“ibu
sudah tak tahu harus berkata apalagi Mika, apa yang ibu katakan pasti akan kamu
bantah. Begitulah watakmu, sekali kau menginginkan sesuatu sulit tuk membuatmu
berpaling dari Sesuatu itu. Ibu hanya bisa merestui kepergianmu, dan ibu harap
setelah kau ngekos kau tak lupa untuk menengok ibumu ini nak..” setelah berkata
begitu ibu beranjak pergi menuju kamarnya.
Aku
tersenyum, karena beberapa hari lagi aku akan mewujudkan keinginanku,
perdebatan ini akhirnya aku menangkan.
⃰ ⃰ ⃰
Hari
yang ku tunggu-tunggu selama ini tiba juga, semua barang-barangku sudah diantar
ke kos-kosan kemarin sore. Jadi sekarang aku tinggal berangkat saja.
“bu,
aku pergi dulu yah, jaga diri ibu baik-baik, kalau ada apa-apa telpon saja..ya
bu.” Aku berpamitan pada ibu, siang ini aku akan memulai hidupku sebagai anak
kos-kosan.
“yah,
jangan khawatirkan ibu, kau akan pulang berapa hari sekali nak?” kata ibu
sambil mengelus wajahku.
“kira-kira
2 minggu sekalilah bu….”
“baiklah…hati-hatilah
kau disana..nak”
“iya
bu..” aku pun melangkahkan kakiku menjauh, walau ku tak memalingkan wajahku, ku
bisa merasakan tatapan sayu ibu yang masih menancap di punggungku.
⃰ ⃰ ⃰
Aku
tercengang, aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.
“apa
itu benar tante?” aku bertanya menuntut kepastian.
“iya
Mika, tante ga bohong. Sebaiknya kau langsung kemari, karena ibumu terus
mengigau memanggil namamu.”
“baik
tante, malam ini juga Mika berangkat ke sana.” Setelah menutup telpon aku
bergegas memasukan baju-bajuku, dan barang-barang lainnya ke dalam tas,
mengunci pintu lalu berlari secepat mungkin keluar gang untuk mendapatkan taksi
menuju Rumah Sakit tempat ibuku dirawat sekarang. ‘oh tuhan, mengapa ini bisa
terjadi? Pingsan di kamar mandi? Astaga..,ibu,ibu…ada-ada saja. Baru seminggu
ditinggal malah seperti ini’. Gumamku dalam hati.
⃰ ⃰ ⃰
“ah, ibu! Akhirnya sadar juga, ibu benar-benar
membuatku cemas…bagaimana perasaan ibu sekarang?” kataku ketika ku lihat ibu
membuka matanya perlahan. Setelah memperhatikan sekitarnya sebentar, akhirnya
ibu berbicara juga.
“ibu
sudah baikkan nak..,Cuma masih sedikit pusing. Ibu senang kau ada di sini, ibu
kangen sama kamu nak..” cairan bening mengalir dari kedua matanya. Ku hapus
dengan perlahan cairan bening itu, cairan yang mewakilkan perasaannya yang
terdalam.
“sstt..,sudah
bu, kalau ibu nangis, nanti ibu makin sakit, yang penting sekarang akukan ada di
sini, aku akan menemani ibu..ibu istirahat saja dulu..aku mau menelpon tante
Rena memberitahukan kalau ibu sudah sadar.” Aku berusaha menenangkan ibu.
“Rena?
Kapan dia ada di sini nak?”
“tadi
malam, tante yang mengantarkan Ibu kemari, saat tante ke rumah kita, tante
menemukan ibu dalam keadaan pingsan di
kamar mandi. Lalu setelah aku datang kemari aku menyuruh tante pulang untuk
istirahat…”
“hm..,
sekarang sudah jam berapa nak?”
“Ini
baru jam 9 pagi, ya sudah, aku mau menelpon tante dulu sekaligus cari makanan
buat ibu, sebaiknya ibu istirahat.” Aku beranjak pergi, namun langkahku
terhenti saat ibu memanggilku.
“nak..jangan
lama-lama, ibu takut tuk berpisah darimu lagi.” Suara ibu terdengar parau.
“ah,
ibu terlalu berlebihan” akupun keluar dari ruangan itu tanpa menghiraukan
perkataan ibu tadi, ada perasaan aneh menyelusup dalam relung hatiku.
⃰ ⃰ ⃰
“dokter, apa yang terjadi pada ibu saya?!!”
aku kaget saat melihat dokter dan 2 orang suster sibuk mengelilingi ranjang
ibu. Aku baru kembali dari mencari makanan.
“tunggu
sebentar yah mba..ibu anda lagi kritis, kami berusaha menolongnya.” Salah satu
suster menjauhkanku dari ranjang ibu. ‘kritis? kok bisa? baru sejam yang lalu
ibu berbicara padaku..ini mustahil’ aku bertanya-tanya dalam hati, persaanku
tak enak, ada sesuatu dalam diriku yang membuat seluruh tubuhku merasa kebas.
“mba,
tolong kemari, ibu anda mau mengatakan sesuatu..” dokter memanggilku, aku melangkah
tapi kakiku terasa kaku, aku merasa takut mendekati ranjang ibu.
“nak..dengarkanlah perkataan ibumu ini” kata ibu
saat aku ada di sampingnya. Suaranya lemah, jauh dan membuat dadaku terasa
sesak.
“iya
bu..aku akan mendengarkannya..” tenggorokkanku tercekat, airmataku mulai
mengalir membasahi pipi.
“nak
wujudkanlah semua keinginan dan cita-citamu…dan jadilah wanita yang baik..”
“ibu..iya
bu.ibu..” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku sekarang. Terbayang semua
kenangan-kenangan saat aku bersama ibu, saat aku membantah kata-katanya, saat
aku mati-matian mendesak agar diizinkan untuk ngekos, saat ibu membelai wajahku
dengan lembut. ‘oh tuhan, betapa bodohnya aku selama ini, belum sempat aku
membalas semua yang ibu lakukan untukku..walau aku menyusahkan dirinya, tak
pernah ibu membenciku, satu goresan luka yang ku beri di hatinya, seribu
kebahagiaan dan tawa bahagia yang ibu balas padaku..’ aku menyesali semua hal
buruk yang aku lakukan pada ibu.
“nak..jangan
menangis, itu hanya membuat ibu semakin sulit tuk berpisah darimu, tersenyumlah
nak, agar ibu bisa pergi dengan tenang…” suara ibu terdengar putus-putus.
“….dan
jika kau merindukan ibu nak…lihatlah pelangi, ibu akan ada di situ..untuk
melihat dan menjagamu nak...” lalu semua hening…, itulah kata-kata terakhir
ibu, kini ia sudah tak bernafas lagi, matanya tertutup rapat, dan tubuhnya
terbujur kaku di pembaringan. Sedangkan aku hanya bisa menangis di sampingnya,
berteriak histeris memanggilnya kembali, tapi itu tak mungkin terjadi.
Tangisanku hanya menggema di dinding-dinding beton ruangan putih ini.
⃰ ⃰ ⃰
Hujan
membasahi bumi sejak semalam, di pemakaman ini semua orang ikut mengantarkan
kepulangan ibu kembali kepada Yang Maha Kuasa.
Tak
berapa lama setelah ibu dikuburkan, satu-persatu pelayat meninggalkan pemakaman
ini. Dan sekarang tinggal aku sendiri di hadapan makam ibu. Menatap nisan yang
bertuliskan namanya, masih berharap kalau ini hanyalah mimpi. Hujan sudah reda,
tapi hatiku terus menangis. Ku putuskan tuk meninggalkan makam, karena semakin
lama aku di sini, semakin lebar luka yang ada di hatiku. Aku pun berbalik lalu
aku terdiam, melihat sesuatu yang langsung membuatku menangis terisak. Pelangi!
Yah, pelangi yang indah. Teringat ku akan perkataan ibu yang terakhir.
“ibu
di sana kan..ibu sedang melihatku kan..ibu lihatlah, airmata ini akan ku ubah
menjadi senyuman..aku akan tersenyum untuk ibu.., ibu..bagiku engkaulah pelangi
hatiku..terima kasih ibu”
Aku
terisak ditemani kesunyian makam. Angin yang berhembus pelan membelai pipiku
seperti dulu Ibu membelainya.
***
BY : MENTARI ARDINI
By : Rie Chan


Balikpapan